https://www.youtube.com/watch?v=y6nAz95ud0s
Transcript:
(00:13) Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang Bapak Ibu. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam. Waalaikumsalam. Selamat siang, Bapak. Suara saya clear ya? Jelas ya? Salam. Clear Pak. Clear. Clear. Alhamdulillah. Siap. Terima kasih. Akhirnya hari ini kita berjumpa lagi ee dalam acara ee rutin ADU RTU webinar dan seperti biasa ee kita ada beberapa diskusi yang nanti akan dipimpin oleh ee Pak Tio.
(00:47) Nah, sebelum kita mulai sebagai host, saya hanya sekedar ingin mengingatkan eh rule of eh thnya kita seperti biasa supaya acara berjalan dengan baik. Yang pertama adalah ee mohon izin pada saat nanti ee narasumber memberikan presentasi agar ee kerja samamanya Bapak Ibu semua ee mik-nya di-mute terlebih dahulu ya. Kita dengarkan dulu presentasinya.
(01:13) Kemudian nanti pada saat setelah selesai presentasi akan ada sesi khusus untuk tanya jawab. Nah, aturan mainnya tanya jawab adalah Bapak, Ibu bisa menuliskan e pertanyaannya di kolom chat dengan ee format nama dan kemudian ee pertanyaan ee nanti akan dibacakan oleh moderator satu persatu untuk ditanyakan ke narasumber seperti itu.
(01:38) Nanti juga kalau waktunya memungkinkan kita akan buka tanya jawab secara langsung. Nah, aturannya adalah sebelum ee open mic nanti ee Bapak Ibu mohon untuk raise hand terlebih dahulu sehingga nanti akan dipilih oleh moderator untuk ee memberikan pertanyaan langsung seperti itu. Ya, kira-kira seperti itu dan mohon izin kalau misalnya nanti sudah kita mute tapi ee suaranya masuk terus ee dengan segala hormat mohon izin kalau kemudian diick off oleh ee kita ee sebagai host untuk menjaga supaya acara kita berjalan dengan baik. Begitu ya,
(02:13) Bapak, Ibu ya. Baik, sebelum kita mulai sebagai warga negara yang baik, kita menyanyikan lagu Indonesia Raya terlebih dahulu. Mic-nya semua boleh dibuka. Silakan. Dan yang sudah pasang backdrop-nya ee poster webinar hari ini juga boleh dibuka videonya. Baik, ee mari kita sama-sama nyanyikan lagu Indonesia Raya.
(02:51) Sudah terlihatkah screen-nya? Sudah. Siap. Sudah, sudah, Pak. Sudah. Oke. Indonesia tanah airku, tanahku darahku. Di sanalah aku berdiri jadi pandu dimu. Indonesia kebangsaanku, pasaran tanah air. Marilah kita berseru Indonesia. Hiduplah tanahku, hiduplah negeriku, bangsaku, rakyatku semua. Jiwanya, bangunlah padanya untuk
(03:57) Indonesia Raya. Indonesia Raya. Merdeka, merdeka. Tanahku, negeriku yang kucinta Indonesia Raya merdeka. Hiduplah Indonesia Raya. Indonesia Raya merdeka merdeka tanahku negeriku yang kucinta Indonesia merdeka Indonesia Raya. Terima kasih. Oke, terima kasih. Baik, selanjutnya kita akan mulai acara. Acara ini akan dimoderatori oleh ee saya biasa
(05:01) nyebutnya Kang nih, jadi saya panggil Kang aja ya biar lebih akrab gitu ya. Kang Tito Rianto. Izin saya share terlebih dahulu CV beliau. ya. Ee ini CV-nya. Jadi beliau adalah ee saat ini bekerja di salah satu konsultan sebagai MP planner spesialis e khususnya spesialis di bidang AVACR. Beliau adalah lulusan dari Politeknik Negeri Bandung jurusan Teknik Refrigerasi dan Tata Udara ee Diploma 4 ya.
(05:41) dan insyaallah beliau nanti akan memandu kita ee dalam ee webinar kali ini yang bertema analisa psikometrik volume 2. Artinya ini adalah lanjutan dari eh psikometrik fundamental yang sebelumnya sudah disampaikan dan juga dikolaborasikan dengan optimizing AUI Energy Use Intensity by Optimizing Asess System Design. Nah, tanpa berpanjang lebar lagi karena waktunya nanti ini cukup banyak materinya, jadi mungkin saya langsung serahkan kepada Kang Tito untuk memimpin ee sesi webinar kali ini.
(06:20) Kepada Kang Tito, kami persilakan. Oke. Eh, baik Kang Eko terima kasih atas waktunya. Bapak, Ibu yang saya hormati, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. Selamat datang kepada seluruh peserta webinar yang diselenggarakan oleh A2 RTU pada hari Kamis, 27 November 2025.
(06:46) Perkenalkan saya Tito. Izin untuk eh memoderatori kegiatan webinar ini. Kegiatan webinar ini memiliki tema dengan judul eh analisa psikometrik volume 2 dan Optimizing Energy Use Intensity by Optimizing Air Conditioning System Desain. Jadi, Bapak Ibu di dalam kegiatan webinar ini nanti akan ada tiga sesi.
(07:14) Sesi yang pertama itu nanti akan ada pembahasan terkait dengan lanjutan ee psikometrik dari yang kemarin volume 1 sekarang volume 2 dengan durasi 30 menit. Kemudian yang kedua nanti ada akan ada penyampaian materi dari sponsorship dengan durasi 20 menit dan terakhir nanti ee ketiga akan menyampaikan materi dengan membahas terkait dengan ee intensitas konsumsi energi.
(07:42) Baik, sebelum ee saya mulai saya akan membacakan dulu ee CV dari pemateri kita. Pemateri yang pertama ini nanti akan disampaikan oleh ee Kang Faturahman Yudi Nugraha. Nah, beliau merupakan seorang engineer dengan multitalenta, pengalaman lebih dari 25 tahun, terutama di dalam pengembangan produk. Di mana skill beliau ini eh memiliki skill terkait dengan eh HVAC and refrigeration technology, kemudian desain air conditioning chiller, air quality, dan clean room.
(08:20) Nah, kemudian pengalaman bekerja. Beliau memulai bekerja di tahun 2000 sampai 2003 di PT ITU Airconko Tangerang. memulai karir sebagai engineering supervisor. Kemudian tahun 23 sampai 2026 sebagai manajer product development manager. Kemudian di tahun 2006 sampai 2011 sebagai produk manager di IKUL Bekasi 2011 sampai 2015 beliau menjabat sebagai research and development manager 2015 sampai 2019 sebagai bisnis development manager dan dari 2019 sampai dengan sekarang sebagai product and marketing development manager diik background pendidikan beliau Beliau
(09:17) memulai pendidikan di Politeknik Negeri Bandung lulus tahun 2000. Kemudian tahun 2004 ee sarjana di Institut Sains and Teknologi Nasional. Lulus tahun 2021 di Universitas Indonesia. Nah, ini beberapa pencapaian beliau dan aktivitas ee profesi beliau. Nah, beliau juga memiliki eh sertifikasi ya di bidang ISO, kemudian air conditioning and refrigeration junior expert dan lain sebagainya.
(09:53) Baik, tanpa mengurangi rasa hormat eh izin Kang Fatur sudah ada ya sudah masuk ya. Hadir Kang. Oke, tanpa mengurangi rasa hormat ee kepada Kang Patur disilakan untuk memberikan materi. Terima kasih. Oke, terima kasih Kang Tito. Kepanjangan tadi, Kang. Bismillah. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang. Waalaikumsalam. Selamat siang.
(10:21) Selamat siang, Bapak, Ibu apa peserta webinar hari ini. Alhamdulillah. Semoga Bapak, Ibu sekalian dalam keadaan sehat walafiat, sedang berbahagia. Share saya sudah kelihatan ya screennya ya? Ya, sudah. Sudah, sudah, sudah, sudah, Pak. Sudah siap. Dan yang penting mungkin jam-jam segini kayaknya tantangannya ngantuk nih.
(10:48) Mudah-mudahan Bapak, Ibu sekalian ee bisa mengikuti dengan optimal. Insyaallah sekarang hari ini ee kita akan melanjutkan beberapa pembahasan mengenai psikometrik yang tentunya seperti yang disampaikan MC juga Kang Tito adalah lanjutan dari webinar AUDU RTU sebelumnya gitu ya. Dan pertama-tama mungkin saya ucapkan terima kasih atas waktu yang disediakan Bapak Ibu sekalian sudah apa berkontribusi dan meramaikan webinar kita hari ini.
(11:16) Dan juga tidak kalah penting juga terima kasih untuk BUKAK Inti Aircon sebagai partner supporting kita dan insyaallah ke depan juga ADW ini tetap terbuka untuk kolaborasi dengan seluruh stakeholder dunia refigrasi dan juga pendingin di di Indonesia ya. Jadi mungkin ee beberapa waktu ke depan kita akan membahas beberapa poin.
(11:40) Pertama adalah ee review sedikit mengenai ee apa aspek-aspek dasar mengenai psikometrik yang kemungkinan kebetulan barangkali belum ada yang ikut di volume pertama. Kita akan highlight sedikit mengenai itu. Kemudian ada juga lanjutannya mengenai analisa proses udara. Kemudian juga ada sensible heat ratio dan juga laju aliran udara atau airflow.
(12:04) Kemudian nanti lanjut ke ee pemanasan ulang atau rheit dan juga diberikan waktu untuk diskusi dan juga tanya jawab. Baik, kita akan mulai dari ee merefresh sedikit apa yang sudah kita diskusikan sebelumnya di di psikometrik dasar begitu ya. Jadi sebelumnya kita sudah ngetahuin bahwa kalau misalnya kita punya pengukuran termohidrometer contohnya ya di sebelah kanan atas kita ini kita lihat misalnya kita melakukan pengukuran terbaca di sini 33,5 derajat celcius kemudian 64% tentunya kemarin kita sudah mengetahui kita bisa melakukan ploting di
(12:44) psyometric charge. Jadi 33,5 tentunya adalah drive above temperatur atau temperatur bola kering. Kemudian kita cari ee garis lengkungan RH kira-kira 64%. Kemudian kita akan dapatkan satu poin, satu titik apa namanya? Per potongan antara temperatur dengan RH tadi. Nah, dari dua parameter tadi sudah cukup untuk menentukan satu titik.
(13:09) Kemudian dari sini baru kita akan bisa explore nilai-nilai parameter yang lain yang mungkin kita akan gunakan untuk keperluan kita lebih lanjut. Yang pertama contohnya kalau kita ambil garis horizontal ke kanan misalnya kita kelihatan di sini bahwa ada satu parameter yang dinamakan dengan humidity ratio.
(13:30) Ini adalah ee tingkat kandungan uap air yang ada di udara pada saat itu berapa? Kita lihat skalanya di sini 20 22. Jadi kira-kira 21,2 saya tulis di sini. Kemudian ee berikutnya sebelah kiri kita bisa lihat ini adalah ee do point temperatur atau temperatur titik embun gitu ya, pengembunan. Dan kita juga sudah sangat maklum begitu ya, kalau misalnya ini adalah negara tropis bahwa duinnya cukup tinggi 25,8.
(14:01) Nah, mungkin kita jadi apa konsern sedikit karena seringkiali terjadi di lapangan ee apa terjadinya kondensasi, fenomena kondensasi di beberapa part begitu ya. Misalnya saja di pemipaan begitu. pemipaan air dingin itu seringki jika isolasinya kurang bagus dengan du poin setinggi ini maka dengan gampang saja si apa udara di sekitar ini akan kondensasi gitu seketar pipa demikian juga di didakting begitu ketika ada ee apa isolasi yang kurang bagus ini tentunya akan mempengaruhi dari ee kinerja bangunan secara keseluruhan dan
(14:36) juga yang paling penting adalah rugi-rugi energi yang terjadi di situ. Karena sekian panjang ducting, sekian panjang pipa, itu semua los semua. Jadi karena hubungan dengan webinar kita hari ini adalah mengenai energy intensity ya, jadi saya pikir konsern kita cukup baik untuk melihat DUPO ini sebagai satu parameter yang ee apa kita perhatikan begitu.
(15:00) Kemudian berikutnya adalah wab temperatur. Kita sudah mengetahui di skala temperatur yang sama, kita bisa mengetahui temperatur bola basah. Begitu. Di sini kita lihat ee banyakan web bub temperatur ini digunakan oleh ee apa? Cooling tower. Biasanya cooling tower sangat konsern karena di sini adalah parameter yang cukup menentukan dari kinerja cooling tower atau juga untuk evaporative cooling.
(15:27) Kemudian berikutnya ada entalpi. Tidak kalah pentingnya bagaimana kita melihat kandungan energi yang terdapat di kondisi udara tersebut. Dan terakhir adalah parameter ee volume spesifik ya. Jadi berapa ee besaran volume dibandingkan dengan beratnya ee massa dari udara tersebut. Nah, ini adalah apa yang kita sudah diskusikan sebelumnya.
(15:50) Saya harap ee teman-teman semua yang sudah join sebelumnya bisa me-refresh lagi dan juga semakin terbiasa dengan ee parameter yang ada di psikometric chart. Next-nya kemudian kita sudah pernah bicara juga di di apa di webinar sebelumnya bahwa bagaimana apabila ada dua buah kondisi udara begitu yang akan kita campurkan. Jadi saya lanjutkan contohnya tadi udara tersebut adalah udara luar gitu.
(16:17) Kemudian kita punya udara dalam ruangan itu kondisinya 24 derajat celcius dengan 50%. Ini titik yang kedua. Jika kita ingin gabungkan keduanya tentunya kita bisa dengan gampang menghubungkan kedua titik ini dengan satu buah garis lurus dan kondisi campurannya pasti akan berada di garis ini. Begitu. Nah, tinggal yang menentukan adalah berapa porsi masing-masing dari suhu udara yang volume udara yang akan kita campurkan tadi.
(16:49) Kalau kita ambil contoh di sini misalnya volume udara luar saya nomor satu itu porsinya 20% begitu ya. Kemudian porsinya volume ruangan udara yang akan saya campurkan itu 80%. Maka kita bisa lihat persamaan sederhananya 20% dari temperatur bola keringnya si udara lingkungan kita kalikan. Kemudian juga 80%-nya udara ruangan kita kalikan.
(17:15) Maka campurannya akan terjadi di titik kira-kira dry buff 25,9 atau hampir 26 derajat celcius. Maka ini adalah kondisi campurannya begitu ya. Dengan 20% dan 80% maka kira-kira kondisinya 26 derajat dengan 55% RH. Nah, ini kita sudah ee apa dapatkan informasinya mengenai mixing air seperti ini. Nah, baru kita akan masuk ke topik baru ataupun pembahasan baru di webinar kita bahwa ketika ada sebuah ee proses udara yang terjadi misalnya salah satunya adalah proses pemanasan secara sensibel.
(17:55) Pada hakikatnya kan ini berarti udara awal itu ditambahkan ee kalor begitu. sampai mencapai titik tertentu. Kalau kita lihat di sini, saya keluarkan persamaan yang kita bedah sama-sama supaya bisa diingat juga bahwa seperti yang kita ketahui bahwa persamaan dasarnya kan ee MCP delta T begitu ya. Bagaimana laju aliran massa dikalikan dengan heat capacity-nya dikalikan dengan delta T.
(18:22) Nah, pada kasus ini kita persimpel saja bahwa setelah persamaan itu kita keluar satu konstanta. konstantanya ini adalah ee 0,0033. Memang agak runyam ya, cuman saya ingin memanfaatkan angka CFM ini. Jadi CFM ini adalah aliran udara yang seringkiali kita normalnya gunakan kan walaupun ada juga yang pakai CFM begitu ya. Tapi saya pikir CMH adalah sangat common karena ini standar internasional secara satuan dan Indonesia juga banyakan CMH atau CFM.
(18:53) Jadi saya bikin konstanta ini supaya mendapatkan ee simple simplicity dari persamaan tadi. Contohnya misalnya kalau kita punya airflow laju aliran udara sebesar 1000 cm contohnya. Kemudian kita ingin melakukan proses terhadap satu titik awal temperaturnya 26 derajat Celcius. Katakan begitu kita ingin mencapai temperatur tadi menjadi 36 derajat Celcius.
(19:18) Maka kita bisa masukkan persamaan ini. Maka kita akan mengetahui berapa besar kalor yang harus ditambahkan pada udara supaya temperaturnya menjadi 36. Jadi keluarlah 3,3 KW. Jadi kalau kita memproses 1000 cm kita ingin ee perubahannya 10 derajat maka perlu kira-kira 3,3 kW panas baik itu dari electric heater atau dari sumber panas yang lain begitu ya.
(19:44) Itu adalah pemanasan secara sensibel. Kemudian yang kedua adalah pendinginan. Tentunya ini adalah kebalikan dari pemanasan. Di sini hakikatnya sama bahwa terjadi hanya perubahan temperatur saja. Catatan pentingnya adalah tidak terjadi perubahan uap air di udara tersebut. Maka itu bisa dikatakan sensibel entah itu pemanasan atau pendinginan.
(20:07) Sedangkan di pendinginan dengan persamaan yang sama kita bisa hitung juga. Tetapi memang secara ee apa proses ini berarti mengambil. Jadi karena mengambil tandanya jadi negatif begitu ya. Tetapi pada umumnya kalau kita bicara orang AC ya negatifnya hilang. Jadi kita bicara cooling capacity sudah pasti ee apa namanya proses pendinginan pengambilan uap ee kalor dari posisi pertama dan posisi kedua.
(20:32) Jadi ini adalah persamaan mengenai sensibel eh heat. Begitu. kita lanjut ke proses yang ee agak lain dengan ee sebelumnya yaitu di mana di sini dinamakan dengan proses dehumidifikasi. Nah, ini penting bagaimana ee pemahaman dehumidifikasi ini adalah mengurangi jumlah uap air yang ada di udara pada saat itu.
(20:57) maka itu dinamakan dengan ee dehumidifikasi karena dia mengambil uap air sehingga di sini ada perubahan yang dinamakan dengan perubahan laten karena ada perubahan ee fase di situ uap airnya berubah begitu sehingga persamaannya sedikit berbeda dari yang sensibel secara massa ee laju alarm massa sama jadi aliran udara dikalikan densitas menjadi m dot begitu kemudian dikalikan dengan laten heat paporation dari uap air kemudian baru itu kita lihat dikalikan dengan selisih uap air yang awal dengan uap air yang terakhir. Jadi, delta W-nya kita
(21:32) yang kita hitung. Akhirnya saya sederakan lagi seperti yang sensibel tadi. Dapatlah angka 0,0082 dikalikan dengan cmh dikalikan dengan delta W. Begitu ya. Kita ambil angkanya supaya kebayang. Ya, contoh saja misalnya di poin nomor satu ini kita lihat ke kanan. Bagi yang ini kita refresh lagi ini angka humidity ratio atau W ini nilainya skalanya eh satu garis itu adalah 0,5.
(22:02) Jadi kira-kira di sini tadi garis pertama adalah 11,5 gram/ kg. Kemudian kita akan turunkan sampai titik uap airnya kira-kira 3,5 gram per kg. Kita dapatkan delta W-nya di sini. kita sama tadi contohnya airflow-nya 1000 cm kemudian dikali laten heat poporation eh 0,0082 * 1000 cm dikalikan dengan eh delta W dalam kasus ini adalah 11,5 - 3,5.
(22:34) Sama seperti cooling bahwa di sini adalah pengambilan sehingga di sini adalah minus nilainya. Next. Ee kebalikan dari yang tadi ini adalah penambahan uap air. Nah, kalau penambahan uap air tentunya ee secara arah berlawanan dengan pengeringan di sini kita berusaha menambahkan jumlah uap air. Kita bisa gunakan persamaan yang sama 0,0082 * cmh dikalikan dengan delta W yang ingin kita capai.
(23:01) Contohnya seperti ini. Oke. Jadi ee keempat proses itu adalah keempat proses yang secara prinsip akan terjadi. Akan tetapi pada aktual kenyataan aplikasinya tidak ada yang hanya murni satu proses terjadi. Kadang-kadang akan terjadi kombinasi di antara empat proses tadi. Kita bilang saja aplikasi contoh misalnya ya.
(23:27) ketika kita ingin melakukan dehumidifikasi misalnya dehumidifikasi tadi teoritisnya idealnya adalah kita apa akan turun seperti ini kan tetapi pada aktualnya contohnya dihumidifikasi dengan desikan rotor gitu atau ee desikan wheel yang isinya silika gelannya prosesnya mungkin agak ke kanan seperti di nomor 8 ini.
(23:52) Kenapa demikian? Karena di actual equipment si desikan itu temperaturnya cenderung panas karena dia ada regenerasi dan lain-lain. Sehingga tidak murni hanya menurunkan ee moistur-nya, tetapi dia juga ada peningkatan temperatur udaranya sehingga garisnya mungkin agak ke kanan bawah gitu ya, ke arah nomor 8. Itu contohnya kombinasi antara kedua proses tadi atau mungkin evaporative cooling.
(24:17) Kalau evaporative cooling idealnya tadi kan nambah di empat tuh. Tapi aktualnya pada direct evaporative cooling ini akan mengikuti garis adiabatis ke arah nomor 6 cenderung ke kiri ke atas gitu. Itu contoh aplikasi yang sesungguhnya terjadi di ee aktual ee apa equipment. Tetapi paling tidak kita memahami bahwa ketika ada perubahan sensibel ini arahnya adalah ke horizontal ya, ke kiri atau ke kanan.
(24:45) Sedangkan ketika ada perubahan laten, kita akan bergerak ke atas atau ke bawah secara vertikal. Saya ee rekap persamaan tadi menjadi tiga buah persamaan. Sensibel 0,003 * cmh delta t, laten 0,0082 cm * delta W, dan total. total itu adalah penjumlahannya bisa atau juga 0,003 * cmh delta H. Delta H ini adalah entalpi yang kita bisa cari angkanya ada di sini.
(25:14) Oke, kita lewatin dulu si ee si chart-nya kita coba ee cari ee ini dulu apa apa pendekatan yang lain. Kita akan bicara mengenai beban panas di dalam ruangan. ee seperti halnya yang ee dilakukan para konsultan atau para mahasiswa dan juga semua yang memerlukan ee perhitungan cooling load calculation begitu ya.
(25:37) Mereka juga membagi beban-bebannya ruangan itu paling tidak jadi dua, ada sensibel, ada laten, begitu. Kemudian dengan berbagai metode, ada yang CLTD, ada yang RTS atau CLF yang lain-lain, akhirnya mereka menentukan tuh berapa sih beban sensibelnya ruangan tersebut itu ya. beban panas ya, heat load bisa dari orang, bisa dari lampu dan peralatan.
(26:01) Kemudian juga beban dari konstruksi, dinding, kaca, ee lantai dan lain-lain. Ini adalah sensible heat atau beban panas sensibel. Kemudian beban laten itu juga sama difine ada dari orang, ada dari peralatan mungkin di situ ada coffee maker atau juga yang lain-lain. Dan mungkin juga diperhintungkan infiltrasi artinya kebocoran ruangan akibat celah pintu ataupun dari buka tutupnya ee pintu ya.
(26:28) Itu juga jadi hal yang jadi dipertimbangkan begitu. Jadi secara secara perhitungan idealnya seperti ini. Cuman memang kalau kita bicara praktis ada juga yang menetapkan beban pendinginan itu berdasarkan ee luasan atau volume begitu ya. Tetapi kita bicara idealnya bahwa perhitungan awal dilakukan dengan pembagian sensibel dengan laten heat.
(26:52) Saya berikan contoh saja ini bangunan ee apa ee imaginer gitu ya. Kita bilang beberapa komponen sensibelnya seperti ini gitu ya. Kemudian latihannya seperti ini. Kita akan coba masuk supaya kita bisa dapat angkanya. Begitu sebelah kiri sama sebelah kanan sama sebetulnya cuman yang kiri ini dalam kilowatt. Yang yang hijau ini adalah dalam BTU karena biasanya kita familiar juga dengan BTU.
(27:17) Tapi K saya akan membawakan dengan kilow terus nantinya ya. Jadi sensibel secara total 70,3 kW latenya 17,6 kW. ditotalkan antara sensel dengan laten ini adalah 87,9 kW. Ini yang akan saya sampaikan bahwa ada yang namanya sensible heat ratio. Di mana sensibel heat rasio itu adalah perbandingan berapa banyak sensible heat atau panah sensibel dibagi dengan total.
(27:45) Ini penting untuk diketahui karena apa? Karena nanti akan berhubungan selalu dengan analisa kita. Jadi di kasus kita SHR-nya atau sensibel hit rationya itu adalah 70,3 / 87,9 atau 0,8. Ini adalah angka SR di contoh kita ini. Kita akan gunakan terus contoh ini ke sampai ke selanjutnya, ya. Nah, coba kita bayangkan ketika ada beban sensibel dan beban laten di dalam ruangan itu, itu menunggu ee udara dingin yang kita suplly dari AC kan gitu.
(28:25) Ketika ada udara dingin yang kita suplly dari AC, beban-beban helaten sama sensibel ini akan terserap gitu ya. Seolah-olah bayangkan terserap oleh udara dingin sehingga dia tercampur kemudian menjadi kondisi udara yang di kita inginkan. Begitu. Kemudian kita sirkulasi balik. Begitu tentunya kalau kita ada kriteria kita mau membuat perancangan berapa ruangan misalnya 24 50% gitu ya tentu kan jadi pertanyaan berapa sih sebetulnya suplly yang harus saya berikan gitu ya atau berapa banyak sih jumlahnya supaya saya bisa menjaga kondisi 2450%.
(29:00) Itulah yang akan kita jawab dengan analisa psikometrik. Jadi, pertama tadi kita bicara SHR, kita bisa melakukan garis SHR ini pertama kali itu harus kita tentukan karena ini adalah garis beban gitu ya. Jadi kita membuat sebuah garis beban dari ruangan. Karena ini penting kan. Ketika kita punya garis ini maka kita bisa lakukan analisa.
(29:27) Nah, pertama yang kita bisa lakukan adalah dengan mencari titik ini nih. Nah, ini yang dinamakan dengan referensi poin. Kalau tidak salah sebelumnya ada yang ditanyakan. Dari sini kita bisa mengambil angka sebelah kanan nih. Sebelah kanan ini adalah SHR 0 koma paling besar 1 ya. Kemudian menurun-menurun sampai 0 kom sekian.
(29:49) Artinya semakin kecil angkanya berarti semakin kecil sensibelnya. Jadi kalau kita contoh saya punya ruangan lain SH-nya 0,9. Gimana saya cara gambarnya? 0,9 ini saya hubungkan dengan garis referensi ini saya garis sambungkan supaya ketemu kemiringannya. Jadi yang penting adalah kemiringannya ya sama ya.
(30:16) Jadi ketika kita mau target berapun kemiringan ini harus ikut terus karena SR-nya 0,9 begitu. Itu cara pertama. Cara kedua menggunakan busur. Mana busur? Busur itu sebelah kanan, sebelah kiri atas nih. Nah, ini adalah busur. Contoh yang lain ya, saya misalnya SR-nya 0,7. Yang saya lakukan adalah dari titik senternya busur ini kita tarik 0,7 di sini.
(30:38) Nah, kemiringan ini ya kemiringan ini akan kita bawa ke poin referensi yang akan kita mau capai. Contohnya dalam hal ini kita mau capai 24 derajat dengan 50%. Jadi kemiringannya yang penting baik yang biru atau yang hijau sama-sama kemiringannya itu kita jaga karena berdasarkan dari perhitungan tadi ya. Nah, balik lagi ke studi case kita tadi bahwa SHR-nya kan 0,8 nih ya.
(31:06) Nah, 0,8 ini kita bikin garis referensi yang merah. Sekarang kita, Pak, lihat inilah yang akan menjadi role model dari ee diskusi kita hari ini. Jadi artinya beban si ruangan ini akan mengikuti garis hitam ini nih sampai menuju ke target ruangan ya. Itu poin pentingnya tuh. sehingga kita bisa menempatkan suplai udara AC kita di sepanjang garis hitam ini.
(31:36) Ketika itu tercapai maka dengan garis SHR, garis beban itu, maka kondisi ruangan ini akan memungkinkan untuk dicapai. Itu poin pentingnya tuh. Nah, kita jumping dulu sedikit Kang Tito. Izin, Kang Tito ya kalau ada waktunya ya. Iya, masih ada 10 menit lagi, Kang. Oke. Sip. Jadi kita lihat dulu apa ee komponen di dalamnya yaitu koil ya.
(31:59) Jadi koil ini kan adalah eh heat exchanger atau alat penukal karor yang berfungsi mendinginkan udara yang kita akan lewatkan gitu. Secara mekanikal mungkin beberapa teman-teman di sini sudah familiar cara konstruksi koil panjang ada tinggi begitu ya. Kalau kita kalikan panjang dan tinggi ini maka kita akan dapatkan luas penampangnya luas penampang dari koil tersebut.
(32:23) Kemudian ee ada kecepatan udara yang melewati koil ya. Kemudian kalau kita tahu CFM-nya, kita bisa cari tahu kecepatannya dengan membagi CMH dibagikan dengan luas penampang tadi karena luas penampangnya akan dilewati oleh si aliran udara. Nah, poin penting di sini adalah row ya. Beberapa mungkin ee sudah tahu tapi yang belum.
(32:45) Row itu adalah baris pipa yang di akan dialirkan oleh pluida dingin. Jadi, row-nya semakin banyak, barisnya semakin banyak, biasanya akan membuat koil kita lebih tebal. Tetapi kita bayangkan lagi, udara yang lewati pipa-pipa itu akan bertemu lebih sering kepada row satu dan row berikutnya kan. Jadi didinginkannya lebih banyak gitu.
(33:10) Row pertama, kemudian ketemu row kedua, ketemu row ketiga dan seterusnya seterusnya. sehingga proses pendinginannya jadi lebih panjang. Begitu. Ini adalah row ya. Kemudian yang berikutnya adalah fin. Fin ini adalah sirip-sirip dari koil. Di fin ini ee tentunya ketika udara lewat dia akan melewati sirip-sirip yang ada di ee koil tersebut.
(33:35) Semakin banyak finnya semakin banyak kontak udaranya gitu kan. Semakin jarang finnya semakin jarang juga udaranya akan melewati fin tersebut. Padahal fin tersebut adalah membawa panas rambatan panas dari fluida yang di dalam pipa itu. Dan ee tentunya udara kita ini seefektif-efektifnya kan ingin mendekati temperatur udah ee refigeran ya atau fluida di dalam.
(34:00) Jadi misalnya kalau temperatur fluidanya katakanlah 10 derajat begitu atau 8 derajat tentunya kita ingin udara kita mendinginkan, mendekati itu gitu kan. paling dekat, paling bagus kan gitu. Sehingga ada indeks ee indeks yang untuk mengindikasikan si koil ini efisiennya bagus atau enggak ada yang dinamakan dengan bypass factor.
(34:22) Jadi kita menghitung berapa udara yang tidak didinginkan dalam tanda kutip tidak didinginkan oleh si koil itu. Jadi ada bypass factor. Jadi ee bypass facttor ini lebih besar, lebih jelek. Nah, apa saja yang yang mempengaruhinya? Pertama tadi dari jumlah row tadi ya. Jadi dari jumlah row tadi semakin tebal row-nya tentunya akan semakin baik.
(34:46) Kemudian ada kecepatan udara ya kan kalau cepat-cepatan sama yang slow kan lebih efektif yang slow gitu ya. Kemudian jumlah fin-nya juga mempengaruhi. Jadi intinya semakin kecil Bpast faktor sebetulnya koil itu menunjukkan semakin efektif nanti akan berhubungan dengan apa yang kita akan diskusikan.
(35:07) Jadi ini saya ambil referensi dari salah satu manufacturing bahwa contohnya ya kalau row semakin tebal itu bypass faktornya semakin baik. Jadi dari 2 row itu 0,31 turun-turun. Kalau 6 row dia 0,03. Dari sisi efektivitas tentunya kita senang kalau row kita banyak gitu kan. Tetapi jangan jangan lupa ketika koil kita tebal si angin susah lewatnya ya kan.
(35:36) sehingga ini menimbulkan namanya satic pressure kita akan bertambah. Nah, ketika satic pressure bertambah efeknya fan kita bekerja lebih berat maka energi fan akan naik. Jadi ini adalah konsekuensi ketika kita ingin membuat row kita naik tapi energi konsekuensinya akan berefek lebih besar begitu. Kemudian kecepatan. Kecepatan itu tadi yang saya katakan semakin cepat itu semakin enggak efektif.
(36:02) Semakin slow dia akan semakin efektif. Maka ketika kecepatan rendah maka semakin bagus. Nah, di sini menguntungkan nih kalau kita mau bikin kecepatan kita rendah dari sisi fan juga akan rendah juga energinya kan. Tetapi jangan lupa bahwa semakin rendah kecepatan maka kita perlu area yang semakin besar. Mungkin saja jadi AHU-nya jadi lebih besar kan gitu.
(36:27) Yang terakhir adalah kerapatan VIN. Jadi ada VIN per in. Semakin rapat dia semakin bagus by faktornya. Ini sama seperti yang row tadi. Ketika fin makin padat, maka satic pressure-nya naik. Energy fan akan cenderung lebih besar. Jadi plus minus kita selalu berhadapan dengan keuntungan di dan ada konsekuensinya untuk kita tukar tambah gitu ya, kita untuk trade in gitu ya.
(36:51) Jadi sebagai engineer kita harus menemukan satu posisi yang paling optimal antara efektivitas dengan yang lain antara energi yang fan atau juga cost ya kan atau juga dimensi dan lain-lain. Ini adalah tugas kita. Lanjut lagi ke sini ke poinnya. Ketika kita ambil sampel yang tadi, kita punya udara luar 20%, return R 80% campurannya di sini ya, di titik ini.
(37:18) Kemudian kita ambil contoh opsi pertama kita pakai koil dengan bypass faktor 0,24 maka garis koilnya seperti ini prosesnya. Proses pendinginan udaranya akan seperti ini. Lurus dulu menuju sensibel. Pada suatu saat dia udah ada mulai kondensasi, dia mulai turun ke arah bawah. Jadi laten hitnya sudah mulai hilang di sini. Ambil satu contoh aja.
(37:40) Ini adalah garis koilnya seperti ini. Maka kita akan ketemu garis beban dong. Garis beban yang hitam tadi. Maka kita akan tentukan temperatur suplly-nya garis beban ini berapa. Kita bisa ambil. Contohnya kita dapat angkanya di sini 11,5. Kemudian target kita 24. Nah, ini penting. Setelah dapat ini, kita bisa menentukan berapa jumlah air flow yang harus kita suplly ke ruangan dengan persamaan kalor sensibel.
(38:10) Jadi, kalor sensibel ini kita lihat 0,003 ini kan dikali cmh dikali delta t. Key sensibelnya kita ambil dari beban ruangan. Ini sudah punya datanya kita. Delta t-nya kita dapat dari barusan kita cari 24 dengan 11,5. Yang akan kita dapatkan adalah CMH berapa? airflow yang harus kita suplly di H kita untuk mendapatkan target ruangan ini, gitu ya.
(38:35) Nah, CMA kita tinggal balik QS dibagi eh 0,03 * delta T-nya maka dapatlah delta T-nya adalah eh sori cmh-nya atau airflow-nya 17.000 cm. Nah, itu cara menentukan dari airflow ruangan eh airflow AHAU ya. Setelah itu kita bisa menentukan berapa cooling capacity yang harus kita supply di coil yaitu dengan entering air yang merupakan campuran tadi di compare dengan supply air-nya.
(39:09) Jadi kita cari delta entalpinnya dapat 56 dengan 32. Kita masukkan persamaan Q total Qotal AHU 0,003 * CMH. CMH-nya baru dapat dikalikan dengan delta H. Maka dapatlah cooling capacity AHU kita berapa? Dalam kasus kita ini 38 TR atau 135 KW. Nah, kita lihat dong bebannya itu sebetulnya 87,9 tapi kita harus ngasih ahu 135 kW lebih besar logikanya karena ada beban tambahan dari press air ini.
(39:42) Semakin press airnya semakin banyak porsinya, semakin banyak selisih udara ee bebannya si ahu dengan bebannya ruangan. Itu logikanya ya. Apalagi semuanya full price air di kita proses untuk mengondisikan ruangan ini pasti akan berlipat-lipat kapasitas energi yang akan kita buang. Makanya ventilation rate itu diukur atau dihitung dengan sangat presisi agar kita mendapatkan efektivitas.
(40:09) Karena kalau terlalu besar kita boros di sini. Bahkan ada yang otomasi ya misalnya dari CO2 ee apa konsentrasi kalau dia melebihi batas baru terbuka press airnya. Kalau dia masih diambang batas, dia tutup-tutup aja. Karena kita akan tahu sekarang bahwa price Air itu mempengaruhi dari besaran energi di AHU. Itu kasus pertama.
(40:32) Misalnya saya ingin memilih nih, saya punya opsi kedua, koil saya 0,32 yang mana 0,32 ini kan lebih jelek tadi ya karena angkanya lebih besar. Tadi 0,24 ini 0,32. Garis koilnya lebih luar. Lebih luar itu maksudnya lebih ke dalam karena dia ee lebih banyak yang lewat dibandingkan yang didinginkan. Kita lihat titiknya bergeser ke kanan jadi 13 derajat.
(40:56) Bisa, Pak, masih tercapai. Bisa ya kan? Karena ada konsekuensinya apa? Konsekuensinya adalah kita hitung lagi Q sensibel kita adalah 70,3 dengan delta T yang mengecil karena 24 ke 13 konsekuensinya air flow kita jadi lebih besar 19.300 sekarang. Padahal tadi sebelumnya, Pak 17.000. Oke, Kango. Bonus, Kang, ya.
(41:20) Jadi, 19.000 CMH ini adalah konsekuensi ketika kita memilih koil yang lebih dalam tanda kutip, lebih kecil gitu ya. Efeknya kita harus besarkan airflow. Kalau airfow-nya membesar berarti fan kita akan jadi lebih besar juga gitu ya. Energi kita juga akan lebih boros juga. Nah, kita lihat kapasitasnya. kapasitasnya entalpinya memang lebih pendek, tetapi karena air besar ini membuat kapasitas AHU jadi lebih besar.
(41:46) Jadi kita sekarang harus punya koil dengan kapasitas 40 TR atau 140 kW. Tadi kan cuman 38 TR, memang beda tipis, tapi di airflow sudah boros, di koil juga sekarang kapasitasnya jadi boros juga. Keillernya juga nanti akan boros lagi gitu kan. Nah, ini perbandingan bagaimana pentingnya kita menentukan living air temperature untuk mendapatkan ee apa namanya? Efisiensi yang paling pas gitu untuk keperluan kita tentunya gitu ya.
(42:17) Karena waktunya sudah mulai kritis kita percepat sedikit. Kita balik lagi kita anggap aja kita pilih opsi yang nomor satu tadi 38 TR dengan air flow 17.000 ya. Bagaimana ketika parsial load? Karena tadi yang kita hitung itu adalah beban puncak. beban desain gitu kan. Ketika parsial contohnya malam hari lah ketika ambiien kita turun dari 34 menjadi 28 misalnya kita lihat garisnya bergeser mixing-nya jadi berubah dong posisinya.
(42:44) Tadinya cuman di apa di 26 sekarang dia bisa 25 derajat mixing air-nya entalpinnya juga berubah. Oke. Kemudian anggaplah kita garisnya kan sama seperti koil yang tadi kan. kita sekarang dapat tetap sama 11,5 derajat celcius living temperatur air-nya kita dapat entalpinnya juga. Nah, kita lihat di sini perubahan beban ini membuat SHR kita berubah ya. Saya silent sedikit nih.
(43:15) Kita lihat ketika beban ee puncak atau desain e condition itu 0,8 karena sensibelnya besar. Tapi ketika malam kan kita tahu sensibel kita jauh berkurang. dingdingnya sudah dingin ya kan kemudian lantainya sudah dingin segalanya sudah dingin sehingga beban sensibonnya jauh lebih berkurang sekarang SR kita cuman 37 / 51 yang artinya 0,73 doang sebelumnya 0,8 ya kan.
(43:41) Nah ketika ini terjadi kita garis SR biru baru ini kita enggak akan dapat kondisi yang kita inginkan. Karena apa? Karena kita ngikutin garis SHR baru, garis beban yang baru dari warna kuning ke yang hitam ini cenderung RH akan naik. Mungkin teman-teman pernah mengalamin tuh kalau misalnya di parsial load ah kita RHU ruangan cenderung lebih naik ya kan.
(44:09) Kalau kita punya ruangannya ketat contohnya clean room lah ataupun ruang operasi yang benar-benar presisi tentunya kan ini tidak diperbolehkan kan gitu ya. Kalau ruangan-ruangan tinggal sih ya oke-oke aja lah. Mungkin plus minus 5% 10% masih oke. Tapi ketika ini bebannya apa? Fungsinya adalah kritis makanya naik RH ini mungkin tidak diizinkan.
(44:27) Nah, ketika itu tidak diizinkan, apa yang kita lakukan? kita akan ngikutin garis beban SHR baru tetapi dengan titik yang baru. Titik barunya itu adalah titik supply air kita geser ke kanan supaya ketemu garis beban yang biru ini ya kan. Inilah yang harus kita lakukan. Jadi kalau ke kanan lurus menambahkan sensibel kan.
(44:53) Di sinilah perannya si pemanasan, proses pemanasan atau reheat proses yang temperaturnya 11,5 tadi itu kita naikkan. ketemu di 15 derajat. Karena perpotongannya di 15 derajat, maka kita harus tentukan berapa besar electric heater misalnya ataupun coil heating yang kita akan tambahkan supaya kondisi ruangan yang ini tetap kita bisa jaga 24 dengan 50%.
(45:16) Nah, itu sekali lagi ee mungkin untuk ruangan yang khusus itu sangat penting karena kita mau jaga presisinya sekian gitu. Tapi kalau untuk ruangan tinggal mungkin tidak terlalu ee seekstrem ini ketatnya gitu ya. Tetapi satu hal yang perlu kita lihat di sini bahwa ada potensi terjadinya parsial load atau beban ee setengah gitu ya atau beban kecil.
(45:40) Nah, ini tentunya akan penting karena tergantung dari equipment kita nih. Kalau kita disupplai oleh chiller, maka chiller kita harus ngerti, chiller kita harus pintar mengurangi bebannya supaya kita juga bisa saving energy gitu. Kalau chillernya masa bodoh, dia segitu-gitu aja gitu kan enggak efektif jadinya ya di energy use intensity-nya.
(45:58) Jadi nanti kurang. Tapi kalau kita optimalkan chillernya dengan flow rate-nya yang eh diadjust, kemudian capacity-nya juga diadjust, maka itu akan membuat efektif eh energy use-nya akan jadi lebih tinggi. Jadi secara keseluruhan saya simpulkan ee bahwa potensi saving energy itu bisa kita lakukan di sistem ini dengan proper psikometrik pemahaman yang baik dulu di sisi udara.
(46:26) Kemudian nanti baru kita melihat efeknya ke sistem cooling yang kita punya apakah DX ataupun chiller gitu ya. Jadi kalau di kita bicara chiller maka control child water temperatur itu penting. Jumlah floret-nya juga penting karena nanti ada hubungan dengan tadi yang parsial load tadi. Kemudian misalnya kita optimalkan juga airflow.
(46:45) Itu mungkin juga karena ketika kita kurangi airflow maka delta T akan nambah lagi gitu ya. Itu perlu perlu perlu perhitungan. Kemudian juga mungkin ada sumber panas yang alternatif. Misalnya kalau pakai DX kita bisa pakai hot gas misalnya gitu ya. Hot gas yang mana tidak menggunakan electric heater atau pakai heat pump sebagai sumut panas dan lain-lain.
(47:04) Jadi ini awalnya dari pemahaman psikometrik tentang proses udara kemudian kita bisa sambungkan dengan eh saving energy ataupun penggunaan ee sumber eh energi yang kita bisa optimalkan begitu. Di halaman berapa itu, Pak? Gimana? Oke. Oke ya. Terima kasih atas perhatiannya. Saya pikir waktunya sudah cukup. Ee saya ucapkan terima kasih.
(47:28) Mungkin saya balikin ke Pak Tito. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Oke, terima kasih Kang Fatur atas penyampaian materinya cukupsip ya terkait dengan materi-materi yang disampaikan baik itu tentang ee parameter psikometrik, pencampuran udara, proses-proses yang terjadi pada udara, perhitungan beban panas, analisa laju aliran udara, dan potensi saving dari analisa psikometrik.
(47:53) Nah, kapu di sini sudah ada beberapa teman-teman yang mulai bertanya. Ini ada saya bacakan mungkin satu-satu ya untuk di ee jawab. Nah, ini ada pertanyaan dari Pak Ade Hidayat. Nah, asalamualaikum Pak Fatur. Dari persamaan QS = 0,0033 * CMH * delta T. Apakah satuannya satuan CMA harus m³/j dan delta T-nya harus derajat Celcius? Oke. Iya memang Kak Pak Kak.
(48:28) Jadi saya bikin konstanta 0,0033 itu agar CMH-nya langsung kita pakai. Jadi kita enggak perlu convert lagi ke liter/s gitu ya. Jadi cmh-nya tetap cm. Kemudian delta T-nya ee temperaturnya adalah derajat celcius ataupun Kelvin sama selisihnya dan satuan akhirnya itu ketemunya kilowatt gitu, Kang Tito. Kang Ad siap ya.
(48:51) Kita waktu tanya jawab mungkin sekitar ee 7 menit ya dari tadi. Nah, kemudian ada dari Pak Ahmad, Maulana Polindra. Nah, bagaimana kita tahu kalau koil ahaw ini memiliki nilai bypass faktor sekian? H. Oke. Ee Pak Ahmad, jadi PYPAS faktor itu bisa kita cari formulanya sebetulnya, Pak Ahmad. Jadi kan kalau kita seleksi coil sebetulnya ee kita menentukan beberapa parameter begitu ya.
(49:22) Yang paling kita lihat contohnya saya coba izin share sebentar. ee yang tadi itu entar koil coil. Oke, jadi gini, Pak. Jadi ketika kita ee lakukan seleksi software biasanya yang kita lakukan coil ya, kita bicara coil ya, yang kita masukkan adalah entering air temperatur atau entering condition lah ya. Ini dalam hal ini 2655 gitu.
(50:07) Kemudian kita konfigurasi dimensinya, kita masukkan airfow-nya segala macam. Keluarlah ee temperatur juga temperaturnya si fluidanya ya, entah preon ataupun chiller gitu. Keluarlah nanti satu parameter yang salah satunya adalah living air temperatur dari koil ya. Contoh saya di sini 11,5. Nah, bypass facttor itu kita bisa cari dari selisih suplai air dikurangi dengan fluida temperaturnya 7 dikurang dibagi temperatur awalnya yang 26 ini dikurangi 7.
(50:47) Jadi 0,24 ini saya dapatkan dari 11,5 - 7 per 26 - 7 itu ee hasilnya 0,24. Itu mungkin mudah-mudahan menjawab ya, Pak. Jadi memang keluarnya kebanyakan saat ini secara software, software coil calculation ketika kita masukkan nanti keluar living air temperaturnya berapa. Jadi biasanya nanti semakin tebal koilnya semakin dekat tuh temperaturnya. Artinya semakin ke sini dia garisnya tuh semakin ke bawah gitu, semakin mendekati tujuh.
(51:19) Kalau semakin kecil selisih yang atas berarti kan angkanya makin kecil mungkin bisa 0,05,04 gitu. Mudah-mudahan menjawab Pak Ahmad. Oke, itu ya Pak Ahmad. Dari Pak Ismail Hakim, Pak. Ini ada pertanyaan ya. Bagaimana membuat garis ee BF di Karta? Ah, itu jadi memang Pak Ismail ee si garis BF ini secara teoritis dengan secara fabrikasi agak sedikit berbeda.
(51:48) Kalau secara teoritis tadi rumusnya adalah yang tadi itu, Pak, selisih antara ee apa? Suplai air dikurangi ee fluida temperatur dibagi dengan eh return air dibagi eh dikurangi fluida temperatur. Tetapi memang karakteristik dari si koil, Pak, yang lebih me me apa namanya? Menentukan berapa B yang terjadi. Jadi, inilah contohnya, Pak.
(52:11) Jadi ini kan dikeluarkan oleh salah satu manufacturing gitu ya. Jadi dia mungkin sudah melakukan kajian ketika dua row efektivitasnya seperti apa, dihitung persamaan yang tadi ketemunya 0,3 gitu. ketika dia kombinasikan dengan 6 row eh efektivitasnya berubah, living temperaturnya lebih dekat dengan fluida, maka bypass faktornya berubah gitu, Pak.
(52:33) Jadi memang cara menghitungnya agak sedikit ee apa namanya? Ee coba-coba gitu ya, iterasilah ya. Jadi kita lakukan satu persatu variasi antara row, velocity dan juga eh kerapatan fin. Tapi paling tidak tiga komponen ini kita tahu semakin rapat finnya itu kecenderungan koil kita lebih efektif. Iya gitu kan. Tapi konsekuensinya fan kita lebih boros. Itu sih, Pak.
(52:59) Mudah-mudahan ini Pak Ismail. Pak Ismail ya Kang itu terkait bypass facttor ya. Nah, ini ada pertanyaan lagi dari Pak Septi. Apakah bisa contoh tadi di psikometrik untuk target ruangan yang -1 derajat Celcius RH-nya 60%? Ah, oke. Untuk minus 16 tentunya chart ini enggak bisa dipakai. Pak siapa tadi, Kang? Pak Septian. Pak Sean. Pak Septian. Jadi kita mesti cari e cuy.
(53:31) Mesti cari psikometrik. Cuman jarang, Pak. Karena semakin kecil temperatur itu range-nya semakin dekat banget. Jadi bedanya 60% dengan 55% itu paling 0,00 sekian gitu, Pak. Jadi memang ee pertanyaannya balik lagi kalau kita temukan psyometric chart untuk range temperatur itu itu bisa digunakan. Tapi ya itu sepengetahuan saya.
(53:53) Saya sih belum pernah nyari juga cuman ee enggak pernah jarang ketemu yang temperaturnya sampai 16 gitu ya. Karena memang mungkin juga propertis udara di saat di kondisi itu sudah sangat-sangat range-nya sudah sangat kecil banget gituah ya. Kalau yang panas malah pernah pernah lihat gitu sampai yang 80 atau 90 derajat.
(54:13) Tapi kalau secara prinsip dan secara apa konsep mungkin ee kurang lebih salah. Ada perbedaan pun mungkin tidak terlalu signifikan gitu ya Kang Tito. Oke. Baik. Baik. Oke kita lanjutkan untuk dua pertanyaan terakhir ya sebelum dilanjutkan ke materi dari sponsor. Heeh. Nah, ini pertanyaan dari Pak Aris. Pak Aris bertanya, "Bagaimana cara menentukan MT dari suatu reprigran jika tidak diketahui kapasitas, namun diketahui selisih entalpi?" M dot ya? Iya, Mot, Pak.
(54:52) Oke. Tapi refrigran ini ya, Kang Tito ya. Iya, dari suatu reprigan. Oke. Mungkin ee izin, Pak Aris ya. Jadi kalau kita cari M dot itu kalau ini ini saya pribadi melakukan apa ee pendekatan begitu biasanya yang saya lakukan adalah ee saya mencari volumetrik volume dari kompresor tersebut.
(55:16) Karena umumnya kalau kompresor-kompresor refigeran itu biasanya identifikasi volume volumetrik volumenya jelas gitu ya. Misalnya 90 cm³b/ menit atau per jam itu biasanya jelas. Biasanya saya cari pendekatan dari situ dan konsep yang sama dengan psikometrik. Dari volumetrik itu saya akan cari density-nya ketika entering refigeran.
(55:40) Jadi kondisinya ketika suction-nya itu mau desain temperatur berapa dengan pressure berapa gitu ya. Sehingga kita dapat densitas dari refigeran tersebut dengan jenis yang sudah kita inginkan. Begitu. Nah, dari situ sama dengan tadi bahwa volumetric volume dikalikan dengan density, maka saya akan dapatkan laju aliran massanya tuh dalam kog/s.
(56:01) Kemudian ya selanjutnya tinggal diutilize aja-nya buat apa. Tapi kalau tadi hubungannya kalau enggak salah dengan delta entalpi ya, berarti delta entalpin-nya berarti dengan diagram pH gitu kan ya. Ya mungkin pendekatannya bisa dengan cara yang lain begitu ya. Tapi kalau yang saya ee apa pernah lakukan dan juga umumnya saya lakukan seperti tadi.
(56:25) Jadi mencari densitas dari ee kondisi suction-nya kompresor dan volumetrik volume dari kompresor tersebut kita ketahui gitu Bang Tito. Oke, siap. Begitu ya, Pak Aris ya. Nah, terakhir mungkin dari Kang Gama ya, Kang Gama Wijaya. Pak, punten. Heeh. pada saat kapan ee bisa menggunakan heater dan menggunakan mesin dehumidifier des chwel dalam menurunkan RH ruangan.
(56:50) Oke, nih menarik nih. Ini saya senang kalau membahas ini karena ini adalah bagian yang sering banyak ee mohon maaf orang-orang mungkin enggak enggak terlalu aware gitu ya. Secara prinsip iya e desic wheel dengan electric heater itu beda fungsi. Itu yang paling penting yang ingin saya sampaikan tadi kan kalau kita ingat yang ini penjelasan terakhir saya ini electric heater tidak sama sekali tidak mengurangi moisture content itu penting dia hanya menaikkan sensibel temperatur saja gitu kan sedangkan desikan wheel itu adalah menurunkan
(57:24) moisture content beneran gitu kan sehingga secara konsepnya sebetulnya tidak bisa ee sama gitu tetapi memang secara hasil akhir bisa saja sama kan gitu. Nah, kalau tadi pertanyaannya kapan saya harus pakai elektriker, kapan saya harus pakai desan gitu kan. Yang paling ee penting adalah ee kita melihat temperatur target kita atau kondisi kondisi target kita.
(57:55) Kalau ini rule oft ya. rule optam artinya pemahaman atau pengalaman saya di lapangan ketika temperatur normal ruangan ya bukan bukan coolrom atau bukan temperatur anggaplah dia di bawah di atas 18 gitu ya di atas 18 sampai 25 lah kita kita betesin kalau di kondisi temperatur itu RH-nya di bawah 45% itu saya mengarahkan kepada desel Artinya sistem dehumidifikasi ee refigeran atau cooling coil dengan heater itu kemungkinan tidak efisien lagi untuk digunakan.
(58:38) Ada waktu sebentar, Kang Tito? Ada 3 menit lagi, Pak. Kasih penjelasan sedikit. Misalnya kita mau temperaturnya 20 derajat, ya. Kemudian RH-nya 45. Ini titiknya di sini nih, ya. kelihatan ya kan itu yang merah ya. Iya kelihatan. Oke. Titik. Nah, jadi kalau kita mau mencapai temperatur ini anggaplah SHR-nya sama lah. AR-nya 0,8 gitu ya.
(59:06) Kira-kira nih kira-kira saya ketemu living air di sini. Nah, ketika living air ketemu di sini masih mungkin saya enggak pakai eh desan wheel kan. Tetapi lihat energinya. Karena kita sudah bicaranya temperaturnya udah di bawah temperatur AC biasa nih. Kita sudah bicara temperaturnya di bawah eh evaporating temperaturnya mungkin di bawah 1 derajat gitu ya.
(59:32) Sehingga mungkin di sini tidak lagi efektif. Itu yang saya sampaikan. Tapi kalau misalnya pakai desikan tentunya perubahan segini besar mah enteng lah gitu. Cuman kita memang ada konsekuensi temperatur sensibel yang naik tadi itu. Tapi kalau kita bicara sensibel kan bebannya lebih cemen gitu ya, lebih kecil dibandingkan dengan laten ya.
(59:53) sehingga mungkin kompensasi di cooling capacity-nya jauh lebih kecil dibandingkan dengan si ee apa eh desikan panas tadi itu. Tetapi catatannya adalah desikan wheel itu selalu perlu regenerasi regenerasi dari desikannya supaya dia bisa absorb air lagi, uap air lagi. Nah, di situ energinya sangat boros. Jadi ee ketika kita ingin memanaskan itu, kita harus mencapai temperaturnya mungkin di atas 110 derajat gitu sehingga heaternya sangat besar.
(1:00:21) Nah, gimana kita bisa menimbang-nimbang begitu ya, mana yang lebih ee efektif kalau cost efektif di awal atau cost efektif di operasional. Karena kalau desikan itu operasionalnya cukup besar karena electriciter tadi. Tapi mungkin di awalnya si refrigerated ini juga lebih mahal karena equipmentnya lebih besar, tetapi operasional bisa jadi lebih murah.
(1:00:46) Jadi timbang-timbangnya di situ kita sebagai engineer harus harus harus juga mempertimbangkan mana ee pro dan kontranya antara kedua sistem tadi. Mungkin mudah-mudahan menjawab untuk ke Kang Gama ya tadi ya. Iya Kang Gam. Oke terima kasih Kang Patur penjelasannya sangat jelas untuk pertanyaan terakhir ini memang masih ada beberapa pertanyaan dari teman-teman cuman ee kita pending dulu kita lanjutkan ke materi kedua dari sponsor ya.
(1:01:13) Oke, sebelumnya terima kasih ke Kang Fatur ya. Sama-sama. Hatur nuhun. Oke, hatur nuhun. Oke. Baik, kita lanjutkan acara sesi kita yang kedua ini akan ada penyampaian dari sponsor yang akan disampaikan oleh Ibu Elina Syarif. Ya, sudah hadir ya Ibu Elina. Eh, halo Pak, selamat siang ya. Sudah hadir Pak.
(1:01:40) Nah, beliau ee bekerja di PT Bukaka Inti Aircon sebagai sponsorship di dalam kegiatan webinar ini. Beliau berposisi sebagai technical salot. Mungkin tidak ee perlu panjang lebar, saya serahkan waktunya kepada Ibu Elina. Ee sebelumnya untuk share screen-nya sudah terlihat ya, Pak? Sudah. Sudah. Baik, selamat siang Bapak, Ibu, dan rekan semuanya.
(1:02:16) Terima kasih atas kesepakatan dan kesempatan dan waktunya sehingga dapat bergabung dalam webinar kali ini. Ee hari ini ee saya akan melanjutkan bahasan dari yang sebelumnya mengenai sistem pendingin yang dapat berkontribusi dalam menekan energi use intensity atau AUI serta meningkatkan efisiensi energi bangunan dan pemilihan teknologi yang tepat.
(1:02:39) Eh, kami mulai dari memperkenalkan solusi ee salah satu unit HPAC yang mungkin menyumbang efisiensi paling besar ee yaitu chiller. Kalau misalnya kita bicara tentang sistem chiller pen. Nah, eh chiller yang akan kami presentasikan dan akan kami sharing pada sore hari ini adalah chiller magnetic bearing centrifugal chiller. Eh, kita lanjut saja.
(1:03:05) Ini ada penampakan dari eh chiller magnetic bearing centrifugal chiller kami. Ini ada yang kapasitas besar mulai dari 200 TR, yang paling kiri sampai dengan 1800 TR dan yang paling kanan mulai kapasitas kecil 120 sampai 170 TR. Eh, sebenarnya apa yang membuat chiller magnetic bearing ini lebih efisien bila kita bicara tentang efisiensi ketimbang dengan chiller lainnya? kita bicara perbandingannya dengan sentrifugal ee konvensional, skru konvensional dan juga dengan scroll konvensional.
(1:03:41) Eh, yang pertama kalau kita bicara mengenai sentrifugal magnetic bearing, tentu running dari kompresornya ini membutuhkan induksi listrik sehingga bila terjadinya fluktuatif atau beban naik turun yang tidak ee bisa stabil tegangannya, eh dari chiller sendiri pastinya dari berbagai brand tentu memiliki self generating system atau safety-nya supaya chiller dapat bekerja eh maksimal meskipun beban ee fluk fluktuatif atau tegangannya fluktuatif.
(1:04:15) Nah, pada chiller clivet sendiri punya safety-nya berupa self generating system di mana pada saat terjadinya fluktuatif atau failure listrik maka sistem ini bekerja seperti konsep baterai yang akan memberikan ee listrik tambahan supaya ee chiller dapat bekerja maksimal dan tetap RPM-nya tidak menurun sama sekali. Nah, ini pada slide yang ditampilkan ini ada gambaran untuk quick start di mana ketika terjadi power fair eh pada detik 0 sampai 25 detik maka selfgen rating system akan menyala eh kompresor akan stop kemudian nanti kompresor akan
(1:04:58) menyala kembali setelah ada pengecekan waterflow check ee pada detik 92. Nah, dari detik 92 ini ee akan menyala kembali dari 0 sampai 80% itu hanya butuh 100 detik, 30 detik ke 108 detik. Nah, dari 80% sampai 100% ini hanya butuh 10 detik untuk chiller kembali menyala 100% ee seperti semula ketika terjadi power failer.
(1:05:27) Nah, ini gambaran mengenai bearing control-nya. Bearing control ini berfungsi untuk ee menjaga agar saf rotor dari magnetic bearing bisa tetap berada di tengah dan presisi sehingga tidak menghantam permukaan kiri dan kanan eh sekitar bearing. Nah, ini ada juga micro channel refriger cooling.
(1:05:49) Ini tuh sistem untuk mendinginkan panel refriger yang ada pada chiller. Di mana panel ini berfungsi untuk menjaga lifetime. Karena kalau kita bicara mengenai lifetime dari eh kompartmen atau electrical dibandingkan mekanical electrical, tentu eh lifetime-nya akan lebih sensitif dan lebih pendek. Untuk menjaga kompartmen electrical lifetime-nya menjadi lebih lama, maka disediakan fitur micro channel refrigerant cooling di mana mengambil refrigeran dingin dari sistem refrigasi untuk kemudian dialirkan ke belakang panel VFD sehingga nantinya
(1:06:22) panel VFD tidak akan overheat sehingga lifetime eh dari electrical ini akan lebih panjang umurnya. Nah, ini ada aerodynamic design di mana ini tuh desain dari eh kompresor magnetic bearing centrifugal. Nah, gambar ini menunjukkan jalur aliran refrigeran di dalam kompresor magnetic bearing.
(1:06:47) Desain aerodinamis ini eh sangat krusial desainnya. Fungsinya untuk mengurangi kehilangan tekanan, mencegah aliran balik, dan menjaga stabilitas operasi. sehingga hasilnya nanti chiller akan bekerja lebih efisien dan getarannya juga lebih rendah. Karena kalau misalnya ee chiller itu biasanya ee vibrasinya akan lebih kencang dibandingkan dengan kompartmen pendukung lainnya.
(1:07:10) Selain itu yang membantu efisiensi dalam chiller selain dari desain tekanan kompresornya juga ada pada eh heat exchange-nya atau evaporatornya. Biasanya kalau misalnya kita bicara sentrifugal, Screw, dan scroll, bentuk evaporatornya itu masih yang tradisional atau yang fladit. Sedangkan untuk yang baru untuk series centrifugal magnetic bearing untuk bagian evaporatornya bentuknya sudah full folling film.
(1:07:36) Di mana nanti refriger akan ditetesi dari atas sehingga proses perpindahan panas akan lebih cepat. Nah, ini bisa diklaim refrigeran akan berkurang massanya sebanyak 40% dibandingkan yang tradisional atau yang flood. Eh, kenapa perpindahan panas bisa lebih cepat ketika penguapan? Karena proses penguapan ini membutuhkan banyak energi panas sehingga perpindahan panas jauh lebih cepat bila dibandingkan yang tradisional.
(1:08:03) Nah, ini juga selain bentuk dari evaporatornya, bagian dalam tubingnya juga dibuat lebih banyak ee kontak sehingga nantinya perpindahan panas akan 30% lebih cepat dan juga lebih luas ketimbang dengan bentuk tubing yang hanya polosan seperti biasanya. Nah, ini selain dari sistem yang efisien apalagi yang ditawarkan dari chiller magnetic bearing yaitu ada saving cost.
(1:08:31) saving cost ini mulai dari electric energy city cost-nya di mana eh karena sistem ini lebih efisien bila dibandingkan sistem chiller yang konvensional yaitu sentrifugal konvensional, SCRW dan juga SC yang konvensional dengan eh kapasitas yang sama kita bicara sama-sama 600. Untuk nilai PLV-nya itu yang oil lubricated chiller itu di sentrifugal hanya 9,6.
(1:08:58) Sedangkan magnetic beyic chill itu nilai IPLV-nya sudah sampai 12,01. ini menyebabkan 40% bisa saving lead strick lebih banyak bila penggunaan eh magnetic bearing centrifugal chiller. Selain itu eh karena penggunaan chiller magnetic bearing ini sudah tidak menggunakan oli sama sekali dan sudah frictionless sehingga nantinya ketika ada maintenance tidak perlu ada penggantian eh oli dan juga tidak perlu ada penggantian oil filter eh sehingga akan banyak meminimalisir biaya untuk maintenance ketimbang penggunaan chiller
(1:09:39) konvensional seperti sentrifugal yang biasa masih menggunakan oli skr dan juga scroll. Nah, ini ada perbandingannya by data sheet ini kita tampilkan dengan kapasitas 750 TR eh base efisiency chillernya itu ada di 90% sampai di 30%. Ini untuk base efisiensinya di lot eh 60% itu bisa mencapai 0,45 eh KW per ton.
(1:10:07) Ini ada perbandingannya antara eh magnetic bearing dan juga oil lubricated centrifugal chiller. Ini sama-sama kapasitas 750 TR. Untuk yang eh centrifugal konvensional itu power listriknya dibutuhkan 467,7 kW. Sedangkan untuk magnetic bearing jauh lebih kecil hanya sekitar 383,5 kW.
(1:10:32) Nah, ini ee menyebabkan biaya listrik yang dibutuhkan yang dikeluarkan customer ketika penggunaan magnetic bearing jauh lebih kecil ketimbang penggunaan sentrifugal eh chiller yang masih menggunakan oil lubricated. Nah, ini ee biaya maintenance-nya bisa saf ini di 20 tahun ini perkiraan biaya maintenance apa saja yang dibutuhkan ketika menggunakan eh magnetic bearing dan juga chiller yang konvensional.
(1:11:01) Ini juga mau ditampilkan sedikit success story-nya. Ini kita bicara chiller plan. Karena memang judul webinar kita tentang efisiensi energi, maka kita bicara sistem chiller plan di sini yang mana chiller itu sebenarnya menyumbang eh efisiensi paling besar ketimbang dengan kompartmen lain.
(1:11:21) Kalau misalnya water cool, eh cooling tower dan juga pompa chiller dan juga pompa kondensernya hanya menyumbang sedikit saja pengaruh terhadap efisiensi secara chiller plan. Namun kalau misalnya bicara tentang success story ini kami tampilkan pada salah satu project kami eh penggunaannya adalah eh chiller magnetic bearing itu untuk efisiensi chillernya saja base efisiensi satu sesuai dengan profile lot-nya itu ada nih 0,42 KW per ton.
(1:11:49) Sedangkan efisiensi secara plan itu ada di 0,58 KW per ton. Cukup baik. Ini ada juga salah satu nad success story kami untuk efisiensi chillernya saja itu hanya 0,44 KW per ton base efisiensinya. Dan untuk secara plan efisiensinya ada di 0,64 KW perton. Eh ini salah satu beberapa klien kami yang sudah eh bekerja sama dengan kami baik hanya only unit dan juga secara chillen.
(1:12:22) Terima kasih. Baik, terima kasih Bu Eliana penyampaian materinya ya terkait dengan ee produk yang memiliki ee keunggulan ataupun efisiensi yang tinggi ya untuk mendukung dan mengoptimalkan eh nilai dari energy use intensity nanti yang akan dibahas juga di paparan yang ketiga ini. Mungkin dari peserta ada pertanyaan ada sekitar waktu 10 menit untuk sponsor.
(1:12:58) Nah, ada pertanyaan dari Pak Fahmi, Bu Eliana, apa kekurangan dari chiller magnetic bearing? Eh, halo Pak, izin menjawab. Kalau misalnya kita bicara mengenai lifetime, tentu teknologi sentrifugal biasa itu eh historisnya akan lebih panjang ketimbang teknologi baru berupa magnetic bearing. Sehingga mungkin kekurangannya itu eh kita belum ada historis mengenai lifetime dari magnetic bearing itu akan lebih baik daripada chiller sentrifugal yang konvensional alias masih oil lubricated. Seperti itu, Pak. Tapi kalau
(1:13:37) misalnya kita bicara efisiensi pasti akan jauh lebih baik penggunaan magnetic bearing bila dibandingkan eh chiller yang konvensional seperti itu, Pak. Cukup ya dari Pak Pahmi. Mungkin dari teman-teman yang lain ada lagi yang perlu ditanyakan. masih ada waktu. Oke. Baik, mungkin ee kita lanjutkan dulu ya ee materinya.
(1:14:16) Jika nanti ada pertanyaan-pertanyaan nanti saya akan buka lagi untuk sesi pertanyaan baik untuk pemateri 1, du maupun yang ketiga. Baik, itu ee materi dari sponsor. Terima kasih Bu Elianet atas penjelasan materi dan produknya. Oke, selanjutnya kita berlanjak ke sesi yang ketiga ini. Sesi yang ketiga ini akan membahas mengenai eh tema utama kita sebenarnya yang kedua terkait dengan optimizing energy use intensity by optimizing system desain yang akan disampaikan oleh eh.
(1:15:02) Nah, sebelum beliau menyampaikan, izin saya untuk menyampaikan ee CV dari beliau. Jadi, beliau ini nama lengkapnya adalah Kafi Udin. Kemudian riwayat pendidikan beliau S2 di Master of Engineering Energy Conservation di Universitas Indonesia tahun 1999 sampai 2001. Kemudian S1-nya di Prancis ya, D3-nya dari Politeknik ITB Bandung dan beberapa asosiasi yang beliau ikuti itu dari Bea, BOMA, IABHI dan sebagai chairman dari A2 RT.
(1:15:47) Izin Kang Kavid sudah hadir ya. Siap, Kang Tito. Oke, mungkin tanpa panjang lebar ee saya sampaikan untuk Pak K menyampaikan materi ya. Baik, terima kasih Kang Tito. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat sore semuanya. Ee sebelumnya saya mohon maaf bila ee signal saya mungkin ee ya mudah-mudahan selama saya bicara tidak tidak ada putus-putus ya.
(1:16:18) ee saya menggaris bawahi dari ini ee dari tiga materi yang ada ini enggak ada yang utama, Kang Tito. Semuanya utama ee semuanya penting saya rasa. Ee mulai dari Kang apa ee Kang Fatur bicaranya lebih mikro. Sebenarnya banyak hal-hal mikro di ee sistem tata udara yang bisa kita kupas dalam ee session webinar ee series yang mungkin bisa kita ee sharing ee nanti ke depan. Oke. Baik.
(1:16:50) Enggak panjang ee tidak berpanjang lebar ee saya akan mencoba membawa materi tentang ee bagaimana mengoptimalkan eh energi konsumsi eh indeks atau EUI eh atau energy use intensity dengan cara eh mengoptimalkan eh chiller system design. Lanjut Kang Tito ya. ini lewat saja ee ya ee kita tahu bahwa ee indeks konsumsi energi.
(1:17:25) Nah, sengaja saya mungkin saya sedikit ee cerita background kenapa saya mengangkat tema ini. saya terkesentil ee karena pernah di beberapa bulan yang lalu di acara workshop nasional ada beberapa materi yang disampaikan itu ee tidak tepat dalam mengartikan indeks konsumsi energi itu sendiri. Nah, tidak salah kita coba ee mengupas ini lebih dalam.
(1:17:53) Sebenarnya ini hal yang sederhana apa itu energy juice intensity ya. Nah, jadi intinya adalah energi yang dipakai sepanjang tahun dibagi dengan ee gross floor areanya selama setahun. Jadi, kWh per me pers. Nah, tapi ingat ini kWh kilow daya yang terpasang dipakai dalam durasi selama setahun. Nah, kemarin tuh kesalahan yang fatal adalah daya ee terus ada penurunan daya itu digunakan sebagai hitungan energi efisiensi.
(1:18:33) Jadi itu suatu kesalahan yang sangat fatal. Nah, ee kembali ke tabel yang saya paparkan di sini ee saya sengaja menampilkan tabel yang dari ee sumber BCA Singapore ya. Eh, ini BCA bukan BCA Bank ya, tapi Building Construction Authority Singapura. Saya punya keyakinan bahwa data yang ditampilkan oleh ee PCA ini cukup ee kredibel ya data-datanya dibandingkan data-data yang sejauh ini banyak ee banyaklah sumber-sumber dari yang ada di daerah kita.
(1:19:17) Karena ya itu tadi banyak sekali salah mengartikan ee IKAI ini perhitungannya seperti apa. Bahkan bukan hanya ee perhitungannya dalam mengartikan IKAI ini sendiri juga salah ya. Nah, sengaja saya kotak merahkan ee kalau ee para penggelut konsultan perencana ee tentunya sangat ee familiar dengan ee perhitungan IKEA atau ee angka IKEA itu ee kalau sudah biasa menghitung kita akan bisa tahu kita itu berada di mana ya.
(1:19:58) Nah, kalau bisa saya katakan bahwa di Indonesia itu rata-rata office itu berada di mungkin eh di kuardan ketiga di sini, third quarti di sini antara 160 sampai 206 itu posisi Indonesia. Loh, kok kembali ke sini, Tito? Tito screen ee Kang Tito screennya kok. Oke, mohon maaf. Halo. Ya, jadi sengaja saya kotak merahkan ee dan kenapa data Singapura ini yang saya gunakan? Kita tahu bahwa Singapura itu juga tropical eh city ya, country ya sebenarnya country tapi kondisinya kurang lebih sama dengan kota-kota besar yang ada di Indonesia. Nah, sengaja saya
(1:20:54) kotak merahkan bahwa ternyata 10% dari performance building yang ada itu bisa mencapai sampai di bawah 94 IKEA-nya. Di sini ada beberapa gedung. Untuk office building bisa di bawah 94. Untuk large eh building. Untuk medium building bahkan bisa di bawah 79. Jadi ee angka ini sengaja saya kotak merahkan bahwa ternyata ee perencanaan gedung yang baik akan bisa ee mencapai angka tersebut. Lanjutkan Titel.
(1:21:33) Slide berikutnya. Slide berikutnya saya sengaja nampilkan gedung yang berbeda ee yaitu gedung rumah sakit Kang Tito. Heeh. Eh, ada dua pengkategorian eh energis intensity kalau rumah sakit yaitu dengan KWh/ me pers year atau KWH per bedace. Nah, di Indonesia umumnya ee memang saya rasa di Singapura juga ya ee itu lebih eh familiar dengan KWh per bat space ya.
(1:22:09) Nah, angkanya ini ya kurang lebih sama pencapaiannya dan ini di Singapura tahun ke tahun selalu dipantau. Lanjut Kang Tito. Next slide ya. Nah, sekarang kita sampai di ee slide bagaimana kita strateginya untuk mencapai energis intensity yang baik melalui eh improvement desain atau energi di asist kita agar bisa kita capai ee yang optimum.
(1:22:51) tentunya sebelum kita mencap ee membahas ke AS systemnya karena pencapaian IKI yang rendah itu tidak terlepas dari eh desain arsitekturalnya. Kita bisa namakan optimized passive design ya. Kita bisa mengoptimalkan building orientasinya. misalkan bidang ee yang terluas kita hindarin ee menghadap utara selatan.
(1:23:21) Kalaupun menghadap utara selatan kita memiliki ee upaya-upaya ee improvement ee bagaimana mendesain shading agar ee bidang utara selatan itu bisa terlindungi dengan shading dan lain-lain ya. Ee kemudian eh world ratio pun juga kita harus perhatikan ya. Kemudian hal lain yang di sisi arsitektural kita juga perhatikan bagaimana kita bisa menciptakan microklimate di sekitaran building itu lebih baik ya dengan pepohonan ada pohon tinggi yang memberikan shading ke bangunan dan lain-lain.
(1:24:00) Nah, ada tambahan dari saya ee terkait passif desain. Saya juga mencoba mengkategorikan bahwa di sisi MEP atau di sisi mekanical atau chiller system kita pun juga sebenarnya ada passif desain. Salah satunya bagaimana kita meminimize pressure drop dengan mengoptimalkan panjang jalur pemipaan. Itu juga salah satu upaya ya.
(1:24:26) Kemudian ee itu juga upaya meminimiz kan thermalosisnya ya. Kemudian bagaimana kita memilih ee peralatan-peralatan ee sistem air conditioning kita semacam chiller AHU, CWP, CWP termasuk changer yang tadi Kang Fatur eh uraikan sizing dan ee penggunaan eh secara tepat itu tentunya menjadi satu hal yang harus ee kita perhatikan itu.
(1:24:57) saya bisa mengkategorikan itu sebagai passif desainnya ya. Bagaimana kita memilih ee seperti tadi yang Kang Faktur utarakan sebenarnya heat tak exchanger itu adalah ee intinya adalah efektivitas perpindahan kalornya yang terbaik yang kita ambil dan itu akan meningkatkan secara keseluruhan. Nah, itulah pasif-pas dari sistem ee air conditioning system kita yang bisa kita upayakan untuk bisa digunakan seefektif mungkin.
(1:25:35) Nah, lebih dari ee apa selain passif desain itu kita ada active desain. Active desain itu tentunya adalah pengembangan ee sistem-sistem kontrol yang kita gunakan agar ee peralatan-peralatan yang kita pakai itu bisa lebih optimal lagi. Lanjut, Kang Tito. Ya, mungkin saya ada lanjut next slide. Nah, ini mungkin saya ee biar kita cukup paham tadi, passif desain adalah orientasi bangunan.
(1:26:06) Bagaimana kita bisa mengupayakan suatu desain arsitekturalnya itu tidak semuanya dikondisikan dengan AC karena bisa beberapa area kita bisa kondisikan secara eh apa? Natural ventilation dan eh dengan membuat satu stake effect yang baik. ee karena kenyamanan itu tidak melulu ke temperatur, tapi juga kecepatan udara menjadi satu ee faktor yang memberikan kenyamanan kita.
(1:26:39) Lanjut, ya. Nah, ini ada sedikit study ee bahwa upaya passif desain yang kita upayakan itu bisa meminimalkan nih di before ini adalah OTTV-nya overall transfer value-nya 45 itu bisa kita turunkan dengan membuat eh shading-shading eh di baik di sisi ee barat utara atau selatan timur itu bisa turun setengahnya 45 jadi 22, 7.
(1:27:12) Jadi intinya nanti ini akan berefek ke IKE yang lebih baik. Lanjut ya. ini dengan ee kita mencoba ee mendesain ada semi basem di area parkir sehingga dia cukup dengan natural ventilasi saja, tidak perlu ada alat ee mekanis eh motorize. Jadi kita bisa akan meningkatkan ee indeks ee konsumsi energi kita. Lanjut. Ini dengan upaya yang optimal, microklimatnya kita optimalkan.
(1:27:50) sehingga beban panas pada bangunan itu akan bisa kita turunkan. Lanjut ya. Ini ini nyelip ini Kang Tito. Lanjut aja. Heeh. Ya, mungkin sedikit ee kita masuk ke session ee bagaimana kita mengoptimalkan as sistem kita. Tapi terlebih dahulu ee saya coba me review ee pemahaman kita tentang sistem AC sentral itu seperti apa.
(1:28:26) Next. Ee apa diklik Kang Tito. Klik lagi. Jadi ada lima siklus ee atau sirkuit atau lima loops dari ee sistem AC sentral kita. Ada loops utama itu adalah siklus refrigerasi. Kemudian ada siklus ee kondensor ee atau kondensor water atau cild water loop. Yang kedua dan keempat adalah indoor eh air loop.
(1:28:59) Yang kelima adalah cooling water loop. Ya. Ya. Coba kita memahami bagaimana siklus refrigerasi itu bekerja di next slide ya. siklus refrigasi bekerja. Ee ini adalah sistemnya yang sebelah kiri, yang sebelah kanan ini adalah diagram pH di mana 2.2 ketiga adalah kerja kompresi. Kemudian kondensasi 3 ke4 ee ekspansi 4 ke satu evaporasi ke sini satu kedua.
(1:29:33) Nah, kerja sistem atau COP itu kita bisa definisikan kerja kompresi dibagi ee efek pendinginannya atau key evaporatornya. Nah, ini sebagai ee pembuka saja. Lanjut, Kang Tito. Next slide ya. Nah, strategi membuat sistem chiller yang lebih efektif tentunya kita ee pertama adalah bagaimana kita bisa memilih high efficiency chiller, sizing yang tepat, kemudian ee bagaimana kita bisa menerapkan aktif-aktif desain, ee perhitungan cooling load itu bisa kita secara zonasi dari ee area-area bangunan kita bisa ee tetapkan. kita tidak
(1:30:26) menggunakan rule of time. Ee itu juga satu salah satu upaya eh bagaimana kita mendesain secara lebih lebih detail, lebih apa ee lebih presisi. Lanjut aja, Kang Tito. Ini ini ada perulangan di slide berikutnya ya. Nah, kita ada active desain dari bagaimana kita mengoptimalkan chiller plan eh kita.
(1:30:55) pertama dari bagaimana kita memilih eh high efficiency chiller. Kedua bagaimana kita eh menggunakan water chiller. Nanti ada kita jelaskan kenapa water chiller itu lebih efisien. Karena banyak pihak juga menyangka bahwa penggunaan water chiller itu juga pemborosan karena ada cooling tower, ganti air yang banyak dan lain-lainnya. Kemudian bagaimana kita menerapkan sistem low flow, bagaimana kita menerapkan eh variabel prime primary pump flow, cooling tower optimization bagaimana.
(1:31:31) Nah, ini mungkin langsung aja ke slide berikutnya satu persatu akan kita jelaskan ya. Nah, ini adalah ee upaya kita salah satunya adalah bagaimana kita memilih ee performance chiller yang baik ya. ee kita di sini bahwa dari grafik yang di bawah itu ada kategori excellent. Kalau eh KW per KW per ton eh KW/TR dari chiller itu berada di kisaran di bawah 0,7.
(1:32:04) Good itu 0,7 sampai 0,85. Nah, seperti itulah kita mengkategorikan bagaimana kita memilih chiller yang terbaik. Lanjut, Kang Tito, ya. Nah, di ASRE pun juga punya pengkategorian tertentu berdasarkan ee kriteria kapasitas dari ee sistem chiller kita. Kalau di atas 300 TR misalkan yang ada saya kotakin merah dalam ee dia memiliki ee apa? suggestion bahwa eh chiller yang paling efisien itu kalau di bawah 0,6 full load ya, di bawah 0,6 KW/TR ya.
(1:32:53) Nah, ini ini sebagai guideline kita ya, bahwa kita punya guideline bagaimana menentukan ee efisiensi dari chiller yang terbaik dari yang ee kita pilih. Lanjut ya. Nah, saya mencoba melalui tabel atau grafik ini ee bagaimana kita memahami kenapa kok water chiller itu lebih efisien dari air gold. Ya, kalau kita melihat di grafik ini, ini adalah grafik Y-nya adalah ee tekanan, grafik x-nya adalah entalpi yang mana ee ini ada garis temperatur konstannya t konstan ya.
(1:33:42) T con itu t konstan ini ya maksudnya ya. yang mana di garis antara empat ke ee ke menuju ke tiga di dalam kubah itu adalah merupakan temperatur konstan ya. Yang mana kalau kita media pendinginannya adalah temperaturnya lebih rendah maka kompresi e kerja kompresi dari kompresor itu akan lebih kecil. Dua ketiga itu kalau pendinginannya water cool, dua ketiga aksen itu kalau pendinginannya medianya lebih lebih temperaturnya lebih tinggi lagi.
(1:34:16) Medianya udara itu medianya akan lebih tinggi temperaturnya. Itu kenapa kerja kompresi kalau kita pakai water cult itu akan lebih rendah ya. Dan ini ee lebih rendahnya ini itu tetap bisa menutupi rugi-rugi dari cooling loops yang ada ee yang tadi kita lihat ya di cooling tower-nya ya. Lanjut ya. Kemudian ada strategi tiga adalah low flow chill water.
(1:34:55) Nah, mungkin bagaimana logikanya sehingga ee seperti kita ketahui bahwa umumnya dari ee sistem chiller yang normal banyak yang dipakai adalah delta t-nya 5 derajat celcius. Kalau kita merubah menjadi 8 derajat Celcius dengan kapasitas evaporator yang sama, maka flow-nya itu akan bisa berubah menjadi lebih kecil.
(1:35:25) M2 ini akan tetap akan menjadi lebih kecil. Nah, melalui ee persamaan rumus yang sederhana ini kita bisa melihat bahwa ee flow dari sistem eh low flow yang dengan delta T 8 derajat Celcius itu akan menjadi 62,5% dari flow yang ee dengan delta T 5 derajat Celcius. Dari sinilah bahwa sistem low flow itu akan menjadi lebih efisien ya.
(1:35:55) Mudah-mudahan bisa dipahami. Lanjut slide berikutnya Kang Tito ya. Nah, dari 62% ee kerja flow dibandingkan dengan ee sistem yang ee high flow itu ternyata dengan perb dengan ee kita menggunakan ee persamaan dengan penerapan variabel speed driver pada pompa, maka akan kita dapatkan kerja efisiensi yang kita dapatkan tuh bisa turun 75,6% eh sor reduce reduce flow-nya tuh 37,5% akan didapatkan saving-nya 75,6% dengan perbandingan ee persamaan yang ketiga ini ya, di mana daya satu dibandingkan daya kedua ee berbanding pangkat 3 terhadap putarannya
(1:37:00) sehingga sehingga kita bisa turunkan rumus tersebut bahwa ternyata listrik yang kita gunakan atau ee energi yang kita gunakan itu bisa turun 75,6%. Lanjut. Nah, ini secara grafik bisa kita gambarkan bahwa sistem low flow ya dibandingkan dengan ee delta T5 ya. Mungkin saya sambil coret-coret ya. Ya, ini delta T5 sebenarnya.
(1:37:32) Delta 5 ini delta T8 umpamanya ya. Bahwa kita lihat di sini cooling tower-nya bekerja lebih rendah, kondensor water pump-nya bekerja lebih rendah, sil water pump-nya bekerja lebih rendah. Walaupun kompresinya ee kerja kompresinya lebih besar karena apa? ee mereka ee chiller desainnya itu membutuhkan ee luasan permukaan dari ee kondensor lebih besar ya sehingga eh sori ee di evaporatornya lebih besar ya sehingga ee membutuhkan di kondestornya pun juga lebih besar luas permukaannya.
(1:38:14) tentunya ini akan menjadi satu hambatan dari siklus refrigerasinya tersebut sehingga kerja kompresinya secara ee rafiah pasti akan lebih besar ya. Oke, lanjut slide berikutnya. Izin, Kang. 10 menit lagi, ya. 10 menit. Oke, lanjut Kang Tio. Ya, dengan menerapkan variabel primary flow tentunya akan bisa didapatkan ee keuntungan seperti yang perhitungan-perhitungan sebelum tadi yang kita jelaskan.
(1:38:55) Lanjut slide berikutnya ya. Nah, penerapan speed control eh pressure differential sensor ini juga akan memberikan satu ee kerja pompa di mana dia akan bekerja selalu optimum. Ya, lanjut. Ini adalah contoh-contoh saja secara eh single line diagram ya. ya dengan ee kerja pompa di mana bawa distribusi kelewat Kang Tito bahwa tekanan di titik terjauh itu tetap bisa kita ee kontrol sehingga aliran tetap dapat di ee distribusikan di titik terjauh sehingga kerja pompa itu benar-benar optimum ya.
(1:39:49) Lanjut. Ya, ini secara grafik kita bisa lihat di sini bahwa dengan ee variabel primary pump itu akan bisa didapatkan kerja pompa yang lebih rendah, ya. Lanjut, ya. Nah, ini ada strategi kelima. Nah, ini jarang sekali ee orang-orang yang menerapkan ini ya. Eh, bagaimana kita dengan memahami tadi prinsip ee kerja dari apa VSD tadi harusnya kita bisa terapkan ini dikerja di cooling tower secara konvensional di sebelah kiri ini kita bisa lihat kerja pompa eh kerja cooling tower yang mana biasanya kalau ee chiller bekerja yang on ada dua
(1:40:49) ini juga cooling towernya juga kerja dua. Nah, kita membiarkan ee cooling tower ketiga dan keempat dan ini jauh lebih kurang efisien dibandingkan kalau kita dengan dua chiller nyala, kita sebenarnya bisa menyalakan keempat-empat cooling tower ini. Kenapa? itu sebenarnya prinsip PSD tadi dengan RPM direndahkan karena pada dasarnya cooling tower itu semacam memperluas permukaan.
(1:41:24) Kita punya media ee pendinginan. Jadi sebenarnya kita bisa menurunkan ee kita menurunkan kerja fannya dengan memanfaatkan empat permukaan ee untuk pendinginan dari cooling tower ini dengan ee di mana fannya bisa kita putar lebih lebih eh RPM-nya lebih kecil dibandingkan kalau kita nyalakan dua cooling tower ini akan banyak ee efisiensi akan kita dapatkan ya.
(1:41:58) Nah, dengan penerapan tambahan kalau misalkan kita karena di cooling tower ini ada sistem blowdown yang harus secara reguler kita harus ee lakukan. Pada dasarnya dengan sistem kontrol TDS kita bisa auto atau auto atau blowdown kita bisa terapkan juga. Jadi kita harapkan kerja sistem akan selalu optimum. Lanjut, Kang Tito.
(1:42:24) Wis. Nah, strategi lainnya adalah bagaimana kita mengkombinasikan dari pilihan-pilihan chiller ee berdasarkan trend load yang kita sudah buatkan. Dan kesesuaian dengan trend load, kita akan dapatkan titik optimum dari kerja sistem yang paling efisien dari pilihan chiller yang kita dapatkan.
(1:42:49) Dan tentunya dari setiap jenis chiller itu punya titik optimum yang berbeda-beda. Jadi kita perlu ee kaji yang lebih jauh terhadap ee pemilihan eh chiller yang paling efisien. Lanjut, Kang Tito, ya. Nah, ini juga saya jujur saja belum pernah menemukan penerapan ee penggunaan ee insulasi yang tepat pada pipa pipa besar cheat water pipe di Indonesia.
(1:43:23) Nah, tolong infokan ke saya kalau ini hal ini sudah ada yang diterapkan di ee bangunan-bangunan yang ada di ee ada saat ini. Karena ini ada banyak sekali kesalahan ini dilakukan karena masih menggunakan kayu sebagai insulasi di pipa-pipa besar. Kenapa digunakan kayu? Karena memang pipa pbesar kalau langsung digunakan insulasi langsung di ee support dengan ee alat support gitu pasti akan gepeng dan itu tentunya akan ee buruk terhadap konduktivitasnya sehingga juga akan bocor.
(1:44:02) Nah, sebenarnya dengan penerapan kayu pun karena konduktivitasnya ee syarat konduktivitas dari insulasinya tidak dipenuhi maka juga akan gagal. akan terjadi banyak kondensasi yang mana kalor latennya itu cukup besar dan itu bisa dianalisa melalui psikometrik ee chart yang tadi sudah diajarkan oleh Kang Fatur ya.
(1:44:26) Nah, pada dasarnya ada dua cara. kita menggunakan ee insulasi keras ee dengan bahan material HDPE atau dengan menggendong seperti ini yang dibawa e itu akan ee bisa mempertahankan ee insulasi yang cukup lunak kalau kita punya luas permukaan ee menggendong pipanya cukup besar. itu juga salah satu cara kita bisa mempertahankan ee insulasinya masih dalam bentuk form yang ee baik.
(1:44:58) Lanjut Kang Tito. Izinkan 3 menit lagi ya. I pasti kok ya. Ini sistem kontrol ya. kita langsung saja di slide berikutnya aja bahwa kita bisa menerapkan ee sistem kontrol ini secara optimum kalau bisa kita ee terapkan agar sistem itu bisa bekerja on demand. Coba lanjut Kang Tito di slide berikutnya. Ee oke.
(1:45:39) Nah, ini adalah ee hal yang juga cukup fatal sering terjadi di karena umumnya perencana tidak menggambarkan keperluan ee apa air venting valve, air valve ini ya. Karena pada dasarnya kalau kita mengisi air ee di sistem cheat water kita itu kalau tidak dibuatkan eh air venting valve di atas punggungan pipa itu pasti akan terjadi jebakan.
(1:46:11) Otomatis di sini akan terjadi button neck yang mengganggu flow aliran eh yang ada di sistem kita. Ini juga akan mengganggu performance sistem kita. Lanjut, Kang Tito. kita sampai di study case yang saya lakukan ee bahwa ini ada rumah sakit yang kita menerapkan ceneration system heat pump yang mana di rumah sakit itu sangat potensi untuk bisa kita dapatkan eh benefit ya karena di rumah sakit ada kebutuhan water hot water.
(1:46:48) ini juga saya rasa bisa diterapkan di perhotelan ya karena ada kebutuhan dingin, ada kebutuhan ee hot water. Lanjut Kang Tio. Ya, ini saya membuat satu perhitungan ee e mendapatkan dari sisi desain bahwa kita bisa mendapatkan IKE ini kesimpulannya adalah ee di mana ee sebelum ada improvement dari ee jenis AC yang ada di mana sebelumnya adalah AC kebanyakan split juga ada ee chiller dengan ee efisiensi yang lebih rendah.
(1:47:28) Dengan kita menerapkan ee ada heat pump di sini kita lihat bahwa water heating-nya itu ada penurunan dari 12% menjadi 2% dan ini secara total ya IKE-nya turun dari 352 menjadi 250 kWh me persar. Ya, lanjut Kang Tito, ya. ini kita dari improvement tersebut kita bisa mendapatkan eh sertifikat green building dari AIDS yang dikeluarkan oleh WorldBank ya.
(1:48:05) Kita dapat pencapaian seperti yang di ada di sertifikat di sini kita energy saving di 23%, water saving 30%, less-nya ee penggunaan material yang ramah lingkungan 65%. Demikian yang bisa saya sampaikan. ee kami persilakan misalkan ada pertanyaan. Oke. Baik, terima kasih Pak Kafi atas materinya nih terkait dengan intensitas konsumsi energi ya.
(1:48:40) Jadi, Pak Kafi tadi menyampaikan strategi-strategi apa saja yang diperlukan untuk menekan dan mengoptimalkan nilai dari konsumsi energi. Nah, mungkin ini sudah ada beberapa pertanyaan untuk Pak Kafi. Saya mulai dari siapa? dari KPO ini atas nama KPO apa chill apakah material chiller atau koil berpengaruh signifikan dalam peningkatan efisiensi chiller apa standar material yang dipakai dalam mendesain chiller kedua dalam optimasi cooling tower redundant unit terpakai semua bagaimana dengan maintenance-nya oke ya ee ee Kang Kpo aja ya saya pakai
(1:49:39) karena namanya enggak ada. Ee material tadi sebenarnya di slide-nya Mbak Eliana tadi udah ada juga ya tadi bahwa bahkan tidak hanya bahan ya ee setiap bahan itu punya konduktivitas termal berbeda. Kita tahu koper itu sangat bagus ya. Jadi untuk meningkatkan ee efektivitas perpindahan panas itu, perpindahan kalor itu tadi kan ada luas permukaannya tadi ada kasar ada helix ya yang di dalam pipa itu dibuat garutan-garutan.
(1:50:18) Nah, itu juga menciptakan aliran yang ee turbulen. Aliran turbulen itu juga meningkatkan ee perpindahan kalornya di sisi permukaan pipanya akan lebih bagus karena fluidanya akan bercampur ee sehingga proses perpindahan kalornya akan lebih ee optimum dibandingkan kalau dia laminer alirannya. Karena yang fluida yang di tengah itu ee tidak bisa memindahkan kalornya lebih baik kalau dia ada di tengah.
(1:50:51) Kalau dia diaduk-aduk itu akan lebih bagus. Dan itu ada session sendiri bagaimana itu bisa fenomena itu ee bisa berpengaruh. Nah, kemudian tadi pertanyaan keduanya tentang redundan ya. I hubungannya dengan efisiensi. Nah, harusnya kalau itu semua terpakai ya baiknya ada yang ee kita katakan punya empat unit chiller ya.
(1:51:19) Harusnya ee kita kan pengin handal, sistem kita handal juga efisien. Sebaiknya ada satu sebagai eh backup atau standby ya. sebaiknya dengan empat chiller ee kita empat chiller semua total kita juga bisa bekerja dengan tiga chiller dan masih terpenuhi kebutuhan pendinginannya. Ya, demikian mungkin Kang Tito. Terkait dengan maintenance-nya bagaimana Pak? Belum terjawab ini yang optimasi cooling tower redundanted ya.
(1:51:59) Nah, jadinya kan kalau itu dipakai semuanya gimana momentum dan kalau satunya di-pair dan harus shut downown ya bisa gagal itu gagal fungsi namanya itu bisa kita kategorikan sebagai down eh ini down time. Jadi tidak terpenuhinya e kondisi yang kita inginkan ya. Misalkan kita punya contoh pompa aja. pompa itu kebutuhannya 100. Misalkan kita tuh harus mendesain lebih dari itu. Katakan ee 50 * 3 ya 50 * 3.
(1:52:31) Jadi kita punya 150. Tapi untuk efisiensinya dengan kita menerapkan VSD tadi, kita bisa aja menjalankan pompa itu du tiga-tiganya, tapi dikala satu shutdown harus di-repair dengan kerja dua pompa akan terpenuhi 100 tadi karena kapasitas pompa tadi 50 50. Demikian. Oke, selanjutnya ada pertanyaan dari Bapak Rinto Arya.
(1:53:01) Beliau bertanya, "Kinerja sistem pendingin bangunan tidak hanya chiller plan saja, tetapi ada juga sisi airside system AHU atau FCU. Bagaimana cara mengoptimalkan kinerja untuk sistem airside ini? Karena saat ini sebagian besar hanya membahas SIL PL saja. Heeh. Ya, karena kalau dijelaskan semuanya waktunya juga enggak cukup ya.
(1:53:29) Airsite ini tentunya eh tentunya keseluruhan chiller system memang ee harusnya kita juga mengupas airite sisi air side-nya juga ya. Nah, kita ee sisi air site ini ee banyak hal sebenarnya yang harus kita perhatikan ee bagaimana tentunya kita optimumkan dari sisi desain perencanaan bagaimana ducting itu benar-benar optimum besarannya sehingga flow atau aliran kecepatannya tetap terjaga secara optimum ya, penyalurannya terdistribusi secara merata ya.
(1:54:10) Nah, sekarang bagaimana ee agar kerja itu intinya tuh kalau kita mendapatkan efisiensi yang optimum itu kalau demand dari load-nya itu ee sesuai dengan energi yang kita keluarkan. Nah, misalkan ee tadi sebenarnya ada satu ee slide yang saya kurang ya. Sebenarnya tadi karena ada kesalahan teknis bahwa misalkan nih jam 12.00 sampai jam 13.
(1:54:39) 00 itu adalah waktu istirahat tentunya pasti demand-nya, cooling load-nya akan turun. Nah, bagaimana sistem kita ini bisa merespon hal tersebut. Entah kita bisa menerapkan adanya apa ee sensor ee gerak dari ee di ruangan dan lain sebagainya ya. Oke. Baik. Selanjutnya pertanyaan dari Bapak Rahmat Hidayat.
(1:55:08) Izin bertanya terkait strategi saving energy low flow. Apakah semua tipe chiller itu available untuk strategi ini dan apakah perlu desain ulang keseluruhan sistem HAV agar kinerjanya tetap optimal? Ya. Nah, pertanyaan bagus ini dari Mas siapa tadi? Pak Rahmat Hidayat. Pak Rahmat Hidayat ya. Makasih pertanyaannya Pak Rahmat ya. Eh hampir semua chiller sekarang ee kalau ditanya pasti dia akan mendesainkan untuk eh low sistem low flow.
(1:55:45) Bahkan kita bisa delta t 6, delta tema kita. Nah, apakah efisien? Nah, kita tentunya nih harusnya nih ada session juga nih yang bisa dijadikan satu tema webinar ya, bagaimana analisa eh life cycle cost. Karena tidak semua eh hal yang mahal di awal itu ee kalau kita tarik ee katakan dalam 5 tahun ternyata totally cost-nya itu akan lebih rendah.
(1:56:20) Apa yang mahal di awal? Ternyata setelah diakumulasikan 5 tahun itu lebih rendah dibandingkan barang yang murah tapi performance-nya buruk di mana ee energinya itu sangat boros sehingga secara akumulasi dalam 5 tahun akhirnya lebih mahal. Nah, kita coba membiasakan diri terutama user ya eh user itu bisa menganalisa secara life cycle cost sehingga bisa memutuskan unit mana yang terbaik yang eh lebih efisien.
(1:56:52) Cukup, Pak. Oke, selanjutnya dari Pak Asep Kurniawan, Kang Kapi, mengenai penggunaan sadle insulation menggunakan PU densitas tinggi selain dengan menggunakan HDPE. Heeh. Nih Kang Asep pengguna ee pakai semacam sterofor intinya ee kebetulan kemarin kan Kang Asep ee ikut juga tuh ee penyusunan RSNI dengan ee Pak Eri Junaidi ya.
(1:57:26) Ee waktu itu kan hanya disampaikan ee bahwa insulasi pipa sekian gitu. Nah, itu kan kemarin juga saya sedikit ee ya kita diskusi ya. Kayaknya kalau di Indonesia tidak cukup dengan begitu. Untuk pipa yang besar ee ada sebaiknya juga disentil gitu, dilarang menggunakan kayu karena orangnya latah. Karena pada dasarnya ee mereka merasa pada umumnya begitu gitu ya.
(1:57:56) Sebenarnya tidak hanya siropom pun bisa. yang penting memenuhi ee konduktivitas nilai minimumnya tadi, Pak. Pak Asep, Kang Asep kan ada tabelnya tuh ya. Heeh. Emang pada umum ya? Ya, mangga. Nah, kalau styropom memang agak susah, Kang. Tapi kalau view bahannya polioretan itu kami pernah gunakan untuk sistem direfigrasi ya, Kang.
(1:58:23) Itu pakai view. Jadi untuk yang sad pengganti kayu itu kita ee mencetak seperti HDPE tetapi view-nya dengan densit tinggi, Kang, itu dilakukan. Itu bisa berhasil, Kang. Bisa, bisa. Bisa. Intinya itu memenuhi konduktivitas yang disyaratkan sama dengan ee insulasi yang ee katakan yang di situnya pakai apa ya? Ya, pu yang lunak ya. Ya. Ya. Iya.
(1:58:54) Intinya harus memenuhi gitu. Umumnya untuk yang jadi ee dudukan itu memang jadi lebih tebal sih, Kang Asep. Lebih tebal ya. Siapsiap Kang Dilaj. Iya. Iya. Oke. Nuhun, Kang Asep. Selanjutnya dari Pak Ranto bertanya untuk laufow dengan menaikkan delta T, apakah ada efek samping baik ke AHU, besar, apakah berubah, dan ke kecepatan aliran pada pompa? Karena biasanya AHU mempunyai standar waterflow juga untuk aksesoris yang lain seperti control valp dan balancing valp ya.
(1:59:33) Dari Kang Pak siapa tadi nih? Pak Ranto ya? Bapak Ranto HP Pak siapa? Pak Ranto. Ranto. Iya. Pak Ranto ya. Pertanyaan bagus, Pak Ranto. Ya, karena delta T-nya kita rubah tentunya akan merambat ke sana ya. Ee tapi nanti di sana juga ee ada efisiensi juga yang kita dapatkan di sana ya.
(2:00:06) Memang itu tadi kita perlu menggunakan life cycle cost kita secara e secara semua ya semua sistem yang kita ee terapkan itu biaya-biayanya berapa secara total biaya berapa, efisiensi yang kita dapatkan berapa, kemudian life cycle cost-nya ee kita analisa mana yang paling efisien. Kalau kita punya dana, why not kita beli lebih mahal, tapi efisiensi yang kita dapatkan itu akan maksimal sehingga cycle cost-nya kita bisa dapatkan yang terbaik gitu.
(2:00:49) Selanjutnya pertanyaan dari Pak Arya Ambara. Bagaimana efisiensi untuk series counterflow atau SCF chiller flame dibandingkan dengan parallel chiller plan dengan delta temperatur 8 derajat tadi yang disampaikan atau mungkinkah digabungkan? Bentar mungkin saya baca saya yang pertanyaan mana ya Pak Arya Ambara bagaimana? Oh, bagaimana untuk series counterflow SCF chiller plan? Ini counterfow-nya yang mana nih maksudnya ya? Dibandingkan dengan parallel chiller plan dengan delta mungkin bisa open mic mungkin.
(2:01:35) Eh, boleh Pak Arya boleh open mic mungkin. He iya, Pak. Jadi yang dari ee keluar evaporator chiller SAT masuk ke evaporator chiller kedua gitu. Keluar evaporator SAT keluar evaporator. Oh ini bertingkat ya cascate ya. Betul Pak di seri gitu. Oh, ini hal yang berbeda nih. Ckcate itu biasanya kita kalau membutuhkan temperatur yang super low ya ee kayaknya enggak bisa dibandingkan dengan hal yang ini deh ya.
(2:02:19) Oke, mungkin dari teman-teman yang lain ada pertanyaan boleh open mic. Ada waktu sekitar 5 menit. Hm. Mudah-mudahan suara saya enggak putus-putus ya. Bagus. Suaranya jelas kok. Santai saja. Alhamdulillah. Ya, sedang di daerah terpencil nih, Pak Abib. Ah, enggak apa-apa yang penting suaranya jelas bisa diternak gitu.
(2:03:08) Oke, ada pertanyaan lagi? Silakan Bapak bisa open mic bagi yang mau bertanya. I. Oke, Kak. Kalau enggak ada mana. Nah, mungkin ee saya rasa sudah cukup ya. kita mungkin di ee terima kasih atas ee tetap bisa bertahan ya ee sampai di session yang terakhir ini. Ee saya sampaikan maaf bila ada hal-hal teknis atau ada yang kurang jelas ya kita terbuka saja untuk bisa diskusi.
(2:03:48) Ee mudah-mudahan nanti ada materi lebih lanjut. Nah, mungkin saya lempar ke panitia untuk bisa ee melanjutkan acara kita di session ee berikutnya. Silakan, Kang Tito. Makasih. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Baik, terima kasih ee Kang Kavi.
(2:04:12) Sesi selanjutnya adalah sebenarnya pembagian door fresh ya. ada beberapa hadiah ya, ada tiga hadiah plus dua voucher ya. Mungkin yang tiga hadiah ini akan diberikan kepada ee apa peserta yang memberikan pertanyaan terbaik dari tiga peser ee dari tiga peserta ini. Nah, untuk memilih siapa pesertanya mungkin hadiahnya mungkin disebutin dulu Kang Tito.
(2:04:41) Ada apa aja? Berapa yang dibagi? hadiahnya itu ada tiga buah unit tumblr ya. Iya. Dan sama dua voucher ya. Senilai Rp100.000 ya. Iya. Oke. Ya, mungkin dipersilakan. Mungkin dari Kang Kang Fatur mungkin bisa milih dua penanya terbaik. Nanti saya dua, nanti satu dari Kang Tito. Oke. Dari Kang Fatur Kang Fatur. Oke. Siap. Siapa dua penanya terbaik? Kalau suruh milih ee mohon izin Pak itu Ismail Hakim tadi I menyangkut ke pertanyaan yang ee saya pikir memang apa ee ini ya apa kritis dan juga masuk ke materi satu lagi yang kedua yang kedua ini Pak
(2:05:45) Gama Wijaya I Pak Agama Wij Jaya ya I oke. Terima kasih. Selamat buat Pak Gama sama Pak Ismail. Nun Pakfaat. Iya Pak yang itu dari si Ibu Pak. Ibu ada milih juga Pak. Satu Pak dari Ibu Eliana. Satu dari He dari Pak Kapi. Du dari Kang Fatur. Oke lanjut. Oke. Oke. Yang dua tadi itu dapat tumblr ya. Ya. Itu dicatat tolong Kang Tito.
(2:06:20) Iya. I. Oke. Berarti ada satu tumbler lagi nih. Satu tumbler. Satu tumblr saya coba berikan ke Kang Rahmat Hidayat. Rahmat Hidayat. Oke. Rahmat Hidayat. Amat ya. Nah, untuk voucher saya coba naikkan ya ee vouchernya jadi 250 satunya ya. Oke, yang ini 250 Pak K ya saya rubah jadi itu tanggal 100 jadi 250 jadi 250 * 2 voucher.
(2:06:58) Oke. Heeh. Kasih karena kasihan harga tumblrnya dengan e voucher 100nya enggak kurang sebanding gitu. Oke, ada satu lagi dari saya. Rranto. Angranto. Ranto. Ranto ya tadi ya. Nanto atau Ranto. Eh, itu bentar voucher ya. Nanti satu voucher lagi dari Bu Eliana. Silakan. Silakan Bu Eliana satu. Iya.
(2:07:37) dari aku itu tadi ee siapa yang ee bertanya mengenai kekurangan magnetic bearing? Aku tadi lupa tuh historisnya. Pafah. Oh iya iya. Oke Pak. Iya iya Pak. Menurut menurut aku kritis pertanyaannya. Aku dari sekian banyak keunggulan magnetic bearing yang aku sampaikan yang ditanya malah kekurangannya. Iya, bagus itu. Iya.
(2:08:01) Jadi bisa kepikiran kekurangan magnetic bearing dibandingkan yang konvensional tadi pertanyaannya. Jadi nanti voucher dari aku buat Bapak yang itu aja yang tadi bertanya itu. Iya, siap. Terima kasih Bu Eliana. Pahmi ya. Selamat Pak. Iya, makasih nih ya. Oke, sudah alhamdulillah semuanya sudah terbagi ya. Silakan ditutup Kang Tito ke saya kembalikan ke Pak Eko.
(2:08:29) Mohon maaf sebelumnya. Terima kasih. Siap. Terima kasih ee Kang Tito yang sudah bersedia memoderatori hari ini. Makasih Kang Fatur yang sudah mau berbagi ilmu, Kang Kavi dan juga eh Teh Heliana. Mudah-mudahan apa yang kita sampaikan hari ini bermanfaat. ee next-nya nanti bisa diisi di absensi termasuk di kuesioner kira-kira materi apa saja yang direquest nanti kita coba untuk R di webinar selanjutnya.
(2:09:01) Kira-kira itu sekali lagi terima kasih atas perhatian semua peserta luar biasa sampai ee menit terakhir tadi saya masih di atas 100 ee dari kami ADTO mohon maaf jika ada yang kekurangan. Sampai ketemu lagi di webinar berikutnya. Sampai jumpa.
Summary
The video discusses the optimization of chiller systems, a crucial aspect of maintaining efficient cooling systems in various industries. The speakers emphasize the importance of understanding the principles behind series counterflow (SCF) chillers and parallel chiller plans to maximize efficiency.
KeyPoints
📊 Chillers are essential for maintaining efficient cooling systems.
💡 Series Counterflow (SCF) chillers can achieve higher efficiencies than traditional parallel chiller plans.
🔄 Life Cycle Cost (LCC) analysis is crucial in determining the most cost-effective solution.
🔍 Magnetic bearings offer improved efficiency and reduced maintenance compared to conventional bearings.
📝 Effective chiller system optimization requires a comprehensive understanding of its components.
Analogy
Optimizing a chiller system is akin to fine-tuning a high-performance engine. Just as an engine's performance improves with precise tuning, a well-optimized chiller system can significantly enhance energy efficiency and reduce costs.
Important Keywords and Definitions
· Chillers: Machines used for cooling systems in various industries.
· Series Counterflow (SCF): A type of chiller design that enables higher efficiencies than traditional parallel chiller plans.
· Life Cycle Cost (LCC): The total cost of ownership, including initial investment and ongoing expenses, over a system's lifespan.
· Magnetic Bearings: High-efficiency bearings used in chillers to reduce maintenance and enhance performance.
· Efficiency: Measure of how well a system converts energy into useful work.
· Delta Temperature: Difference between the temperature of the hot and cold fluids in a chiller system.
KOMENTAR